Rabu, 29 Juli 2026

Mengapa Saya Mendirikan Perusahaan Baru

 

Sebelum saya melanjutkan cerita mengenai proses hukum yang kemudian terjadi, saya merasa perlu menjelaskan satu hal terlebih dahulu.

Mengapa saya mendirikan sebuah perusahaan baru?

Banyak orang mungkin mengira bahwa pendirian perusahaan baru berarti saya ingin meninggalkan Perusahaan Menyala (bukan nama sebenarnya). Padahal, kenyataannya justru sebaliknya.

Perusahaan Menyala adalah rumah yang saya bangun dari nol (kalo tidak dari minus).

Pada tahun 2019, saya memulainya hanya dengan sebuah mesin press kecil, satu gudang sederhana, dan sebuah mimpi yang mungkin terdengar terlalu besar saat itu: mengubah perilaku masyarakat Indonesia bagaimana seharusnya mereka mengelola sampah.

Sejak awal, tujuan kami bukanlah mencari keuntungan sebesar-besarnya.

Kami adalah organisasi yang percaya bahwa dampak sosial jauh lebih penting daripada sekadar keuntungan finansial. Visi kami sederhana, tetapi tidak mudah diwujudkan: mengajak masyarakat memilah sampah dari sumbernya, membangun kebiasaan baru, dan menciptakan sistem ekonomi sirkular yang mampu memberikan manfaat bagi lingkungan sekaligus masyarakat.

Model bisnis kami saat itu adalah Bank Sampah. Kami membeli sampah yang sudah dipilah oleh masyarakat, kemudian menjualnya kembali ke industri daur ulang.

Sedikit demi sedikit kami bertumbuh.

Dari satu mesin press kecil, kami berkembang hingga memiliki dua mesin press berkapasitas besar, conveyor, dan berbagai mesin pendukung lainnya. Tidak semua mesin beroperasi secara maksimal, tetapi semuanya merupakan bagian dari proses belajar kami mencari teknologi yang paling sesuai untuk kondisi pengelolaan sampah di Indonesia.

Bidang ini masih sangat baru. Tidak ada rumus yang benar-benar pasti. Hampir setiap hari kami belajar, mencoba, gagal, lalu mencoba lagi.

Namun, seiring berjalannya waktu, saya menyadari satu kenyataan yang tidak bisa saya abaikan. Model bisnis Bank Sampah memiliki dampak sosial yang besar, tetapi sangat sulit untuk bertahan secara finansial.

Biaya operasionalnya sangat tinggi.

Kami harus mengedukasi masyarakat setiap hari. Tim kami harus berkeliling menjemput sampah dari berbagai lokasi yang berjauhan. Kami harus membayar tenaga lapangan, sopir, admin, edukator, dan berbagai kebutuhan operasional lainnya.

Mengubah perilaku masyarakat ternyata jauh lebih mahal daripada yang pernah saya bayangkan.

Di sisi lain, pendapatan dari selisih harga jual dan beli sampah sering kali tidak cukup untuk menutup seluruh biaya tersebut.

Saya mulai bertanya kepada diri sendiri.

Bagaimana caranya agar misi sosial ini tetap bisa berjalan tanpa terus bergantung pada bantuan atau donor? Bagaimana agar perusahaan yang telah saya bangun ini bisa bertahan dalam jangka panjang? 

Pertanyaan itulah yang terus saya pikirkan.

Hingga pada tahun 2022, saya bertemu kembali dengan seorang teman lama.

Kami berdiskusi panjang mengenai masa depan pengelolaan sampah di Indonesia. Saat itu ia sedang mengembangkan sistem digital, sementara saya memiliki pengalaman membangun ekosistem Bank Sampah di lapangan.

Dari banyak diskusi tersebut, kami melihat adanya celah yang belum terisi.

Bank Sampah melayani masyarakat yang sudah memiliki kebiasaan memilah sampah dengan baik.

Namun, jumlah masyarakat yang belum mampu memilah sampah jauh lebih besar. Mereka sebenarnya ingin berkontribusi, tetapi belum memiliki kemampuan atau kebiasaan memilah sesuai standar Bank Sampah.

Kami melihat kelompok masyarakat inilah yang membutuhkan sebuah "jembatan".

Dari sanalah lahir gagasan untuk membangun sebuah perusahaan baru yang bergerak di bidang waste management. Kebetulan teman saya ini memiliki beberapa potensi yang sedang dijajaki dan saya tertarik untuk bisa belajar lebih banyak lagi. 

Perusahaan ini memiliki model bisnis yang berbeda dengan Bank Sampah.

Jika Bank Sampah bergerak pada perdagangan sampah terpilah, maka perusahaan baru ini menyediakan jasa pengelolaan sampah bagi masyarakat, institusi, maupun perusahaan yang belum mampu melakukan pemilahan dengan baik. Tujuannya adalah menjadi pintu masuk agar semakin banyak orang dapat mulai berpartisipasi dalam pengelolaan sampah, kemudian secara bertahap berkembang menjadi nasabah Bank Sampah. Dengan demikian, kedua entitas tersebut dirancang untuk saling melengkapi, bukan saling bersaing. 

Saya sengaja membangun perusahaan baru karena saya tidak ingin membebani Perusahaan Menyala yang saat itu kondisi keuangannya masih mengalami kerugian.

Saya juga ingin memastikan bahwa apabila model bisnis baru ini gagal, dampaknya tidak akan mengganggu operasional Perusahaan Menyala yang sudah bertahun-tahun kami bangun.

Sebaliknya, apabila berhasil, saya berharap perusahaan baru ini justru dapat membantu memperkuat keberlangsungan Perusahaan Menyala.

Salah satu pertanyaan yang kemudian sering muncul adalah mengapa perusahaan baru tersebut menggunakan alamat yang sama dengan Perusahaan Menyala.

Jawabannya sebenarnya sederhana.

Pada saat itu, seluruh sampah yang berhasil dipilah melalui operasional perusahaan baru akan disalurkan ke Perusahaan Menyala sehingga menjadi tambahan pendapatan bagi perusahaan tersebut. Penggunaan lokasi yang sama juga membuat operasional menjadi jauh lebih efisien. Kami tidak perlu memiliki dua fasilitas dengan fungsi yang hampir serupa, dan sebagai Direktur Utama saat itu saya merasa penggunaan fasilitas tersebut merupakan keputusan operasional yang wajar dan dilakukan dengan itikad baik demi efisiensi. 

Saya juga ingin meluruskan satu hal.

Saya tidak pernah berusaha menyembunyikan keberadaan perusahaan baru ini.

Sejak awal berdiri, saya secara terbuka memperkenalkan INGRAM melalui media sosial. Hampir seluruh perjalanan kami saya dokumentasikan, mulai dari kegiatan edukasi masyarakat, kerja sama dengan pemerintah daerah, pengembangan teknologi, hingga berbagai program pengelolaan sampah di berbagai kota.

Semua saya unggah secara terbuka.

Bahkan, Fira maupun beberapa pengurus lainnya mengikuti perkembangan tersebut. Saya mengetahui hal itu karena berbagai unggahan tersebut mendapatkan interaksi, termasuk tanda suka (likes), dari mereka.

Tidak hanya melalui media sosial, dalam berbagai pertemuan saya juga beberapa kali menyampaikan tentang program-program yang saya sedang kerjakan di beberapa daerah di Indonesia. Saya menjelaskan bahwa tujuan utama kegiatan ini adalah memperluas dampak pengelolaan sampah dan memperkuat ekosistem yang selama ini dibangun oleh Perusahaan Menyala.

Karena itu, bagi saya, keberadaan INGRAM bukanlah sesuatu yang pernah saya sembunyikan.

Justru sebaliknya.

Saya selalu bangga menceritakan apa yang sedang kami bangun karena saya percaya tujuan kami adalah tujuan yang baik.

Saya memang tidak yakin seluruh gagasan ini akan diterima oleh semua pengurus. Dalam beberapa tahun terakhir saya merasa dukungan terhadap berbagai ide pengembangan perusahaan mulai berkurang. Namun, saya tidak pernah berniat menjalankan sesuatu secara diam-diam ataupun mengambil manfaat pribadi dari perusahaan yang telah saya bangun bersama.

Yang saya lakukan hanyalah berusaha mencari cara agar mimpi besar kami tetap bisa hidup.

Selama bertahun-tahun saya berkeliling ke berbagai daerah di Indonesia. Saya mencari pendanaan, membangun kerja sama, mengembangkan program pengelolaan sampah, dan sering kali harus meninggalkan keluarga selama berhari-hari.

Semua itu saya lakukan bukan demi kepentingan pribadi.

Saya melakukannya karena saya percaya bahwa Indonesia bisa memiliki sistem pengelolaan sampah yang lebih baik.

Saya percaya masyarakat Indonesia suatu hari bisa memilah sampah.

Saya percaya ekonomi sirkular bukan sekadar konsep, tetapi sesuatu yang bisa diwujudkan.

Ironisnya, keuntungan yang diperoleh dari berbagai program tersebut justru berkali-kali saya gunakan untuk membantu menutup biaya operasional Perusahaan Menyala yang harus menanggung beban tenaga kerja dan biaya operasional yang sangat besar.

Pada masa itu, pikiran saya hanya satu.

Bagaimana caranya agar perusahaan yang saya bangun sejak 2019 ini tidak hanya bertahan, tetapi juga mampu memberikan dampak yang lebih besar bagi Indonesia.

Rabu, 15 Juli 2026

Sebuah Invoice yang Mengubah Segalanya

 

Sekitar tahun 2023, saya dihubungi oleh seseorang yang ternyata masih memiliki hubungan keluarga dengan Fira.

Ia menyampaikan bahwa kompleks perumahannya sedang mencari perusahaan yang dapat mengelola sampah secara lebih baik. Saat itu, INGRAM masih berada pada tahap awal pengembangan. Kami belum memiliki banyak pengalaman maupun sumber daya untuk menangani kawasan sebesar itu, yang terdiri dari sekitar 1.500 rumah dan 100 lebih area komersil.

Sejujurnya, saya belum cukup percaya diri untuk mengambil pekerjaan sebesar itu melalui INGRAM.

Karena itulah, saya memutuskan proyek tersebut tetap dijalankan melalui Perusahaan Menyala, sementara pekerjaan operasionalnya dikerjakan oleh perusahaan lain yang sudah lebih berpengalaman, yaitu PT Khazan (bukan nama sebenarnya).

Skemanya sederhana. Perusahaan Menyala menerima pembayaran dari pengelola perumahan, kemudian sebagian besar dana tersebut dibayarkan kembali kepada PT Khazan sebagai pelaksana operasional di lapangan.

Dengan kata lain, Perusahaan Menyala tidak memperoleh keuntungan dari jasa pengelolaan sampah itu sendiri. Sebagian besar pembayaran habis untuk membayar pihak ketiga, biaya operasional, sewa kendaraan, koordinasi lapangan, dan berbagai kebutuhan teknis lainnya.

Manfaat yang kami harapkan justru berasal dari sisi lain.

Sampah yang telah dipilah dari kawasan tersebut masuk ke Perusahaan Menyala sehingga menjadi tambahan pendapatan dari hasil penjualan material daur ulang. Pola ini sejalan dengan gagasan yang sebelumnya saya bayangkan ketika membangun INGRAM, yaitu menciptakan sinergi antara layanan waste management dan Bank Sampah. 

Bagi saya pribadi, proyek ini juga menjadi proses belajar.

Kami belajar bagaimana mengelola layanan waste management dalam skala yang lebih besar, memahami tantangan operasional, serta membangun sistem yang suatu hari nanti dapat dijalankan secara mandiri.

Namun, kerja sama tersebut tidak berlangsung lama.

Di tengah perjalanan, PT Khazanah meminta penyesuaian harga. Di sisi lain, pihak pengelola perumahan belum bersedia menaikkan nilai kontrak. Akhirnya, kontrak dengan PT Khazanah berakhir.

Sementara itu, layanan kepada warga tidak mungkin dihentikan begitu saja.

Sampah tetap harus diangkut setiap hari.

Pelayanan harus tetap berjalan.

Dalam kondisi itulah saya mengambil keputusan agar pekerjaan operasional sementara dialihkan kepada INGRAM, menggunakan skema yang sama seperti sebelumnya ketika dikerjakan oleh PT Khazan. Tujuannya hanya satu: memastikan pelayanan kepada warga tetap berjalan sambil menunggu proses negosiasi ulang dengan pihak pengelola perumahan.

Sayangnya, tepat pada masa transisi tersebut, terjadi sebuah kesalahan administrasi.

Baru sekitar satu bulan pekerjaan berjalan, Perusahaan Menyala menerbitkan invoice kepada pihak perumahan seperti biasanya.

Namun pada saat yang sama, salah satu karyawan yang menjadi PIC proyek, sebut saja Kenny (bukan nama sebenarnya), sedang berada dalam masa pengunduran diri dan diketahui sedang menghadapi persoalan pribadi.

Dalam proses administrasi itulah terjadi kekeliruan.

Invoice yang dikirim kepada pihak perumahan menggunakan kop surat INGRAM, padahal seharusnya tetap menggunakan kop surat Perusahaan Menyala. Skema yang saya rancang sebenarnya tidak berubah: Perusahaan Menyala tetap menjadi pihak yang berkontrak dengan perumahan, kemudian membayarkan pekerjaan tersebut kepada INGRAM sebagai pelaksana operasional, sama seperti sebelumnya kepada PT Khazan.

Kesalahan tersebut murni merupakan kesalahan administratif.

Namun sebelum saya sempat menjelaskan duduk perkaranya, persoalan itu berkembang menjadi jauh lebih besar.

Pada waktu yang hampir bersamaan, saya sedang berada di luar negeri mengikuti dua program short course, masing-masing di Denmark dan Jepang.

Kedua program tersebut saya ikuti melalui beasiswa penuh.

Seluruh biaya perjalanan, akomodasi, dan kegiatan ditanggung oleh penyelenggara. Saya bahkan menerima uang saku (stipend) selama mengikuti program tersebut. Saya sama sekali tidak menggunakan dana Perusahaan Menyala untuk membiayai perjalanan tersebut.

Namun, di tengah situasi yang sudah memanas, muncul dugaan bahwa keberangkatan saya ke luar negeri dibiayai menggunakan uang perusahaan.

Saya bahkan mengetahui bahwa Fira sempat menghubungi suami saya dan mengatakan,

"Saya tahu gaji kamu berapa, dan nggak mungkin kamu bisa membiayai Fei ke luar negeri."

Kalimat itu membuat saya sedih.

Bukan karena persoalan uangnya.

Melainkan karena saya merasa seluruh perjuangan yang saya lakukan untuk mendapatkan kesempatan belajar melalui beasiswa seolah tidak berarti.

Sepulang dari luar negeri, hal pertama yang saya lakukan bukanlah beristirahat. Saya memilih menemui Fira. Kami mengadakan pertemuan di rumahnya bersama beberapa pengurus lainnya.

Saya datang dengan harapan dapat menjelaskan semuanya secara terbuka.

Namun, pertemuan itu tidak berjalan seperti yang saya bayangkan.

Selama pertemuan, saya lebih banyak menerima berbagai tuduhan dan penilaian terhadap diri saya. Saya dikatakan tidak kompeten, dianggap tidak mampu memimpin, dan mendengar banyak kalimat yang menyudutkan kapasitas maupun integritas saya.

Saat itu saya baru saja menyelesaikan perjalanan panjang dari luar negeri.

Secara fisik saya kelelahan.

Secara mental saya juga tidak memiliki cukup waktu untuk mempersiapkan diri menghadapi situasi tersebut.

Saya berusaha mendengarkan semuanya, tetapi terus terang, saya merasa seperti sedang diadili sebelum benar-benar diberi kesempatan menjelaskan.

Hari itu saya pulang dengan perasaan yang sangat hancur.

Bukan hanya karena tuduhan yang saya dengar, tetapi karena untuk pertama kalinya sejak membangun organisasi yang saya cintai ini, saya merasa kehilangan tempat untuk didengar.

Saya tidak tahu harus mulai menjelaskan dari mana.

Dan saya juga tidak tahu bahwa pertemuan itu hanyalah awal dari rangkaian peristiwa yang jauh lebih besar.

Life Begins at 40

Life Begins at 40, They Said.

Katanya, hidup dimulai di usia 40.

Semua bermula pada 4 Februari 2025, tepat di hari ulang tahun saya.

Hari itu, saya mendapat kesempatan untuk mendukung kegiatan Ibu-ibu Seru (organisasi sekumpulan istri menteri) dalam rangkaian peringatan Hari Peduli Sampah Nasional. Mereka diperkenalkan pada aktivitas pemberdayaan masyarakat dan pengelolaan sampah yang kami lakukan di daerah tersebut. Dalam kegiatan tersebut, saya diperkenalkan kepada seorang pejabat yang saat itu bahkan tidak langsungsaya ingat siapa. Saya juga tidak memiliki hubungan ataupun komunikasi sebelum dan sesudahnya dengan beliau, bahkan sampai hari ini.

Acara berlangsung dengan baik. Pada rangkaian acara ditayangkan sebuah video yang menampilkan aktivitas pengelolaan sampah dan pemberdayaan masyarakat yang saya beserta tim lakukan di lokasi tersebut.

Beberapa waktu setelah kegiatan selesai, tanpa sepengetahuan saya, pejabat tersebut mengunggah apresiasi terhadap saya dan kegiatan itu di media sosial pribadinya. Caption yang digunakan ternyata mengambil kutipan dari sebuah artikel di Google yang telah terbit pada tahun 2022.

Saya sendiri tidak mengikuti akun media sosial beliau, sehingga saya bahkan tidak mengetahui adanya unggahan tersebut. Namun, seseorang yang mengikuti akun tersebut mengambil tangkapan layar unggahan itu dan mengirimkannya kepada seseorang yang dalam tulisan ini saya sebut dengan nama Fira (bukan nama sebenarnya).

Tidak lama kemudian, saya menerima rekaman suara dari Fira. Dalam rekaman tersebut, ia menuduh saya masih memanfaatkan nama Perusahaan "Menyala" (bukan nama sebenarnya) untuk kepentingan pribadi. Ia juga menyampaikan bahwa ia akan melaporkan saya ke kepolisian dengan tuduhan bahwa saya masih menggunakan nama perusahaan tersebut

Tuduhan tersebut membuat saya terkejut. Karena sejak mengundurkan diri dari perusahaan tersebut pada 28 November 2024, saya sama sekali tidak lagi menggunakan nama maupun identitas lembaga tersebut dalam aktivitas profesional saya.



Saya memilih untuk tidak membalas rekaman suara tersebut karena merasa tidak melakukan hal yang dituduhkan.

Namun, persoalan tidak berhenti di situ.

Fira kemudian menghubungi suami saya dan kembali menyampaikan ancaman yang sama, yaitu akan melaporkan saya ke pihak kepolisian. Suami saya berusaha menjelaskan bahwa caption yang diunggah oleh pejabat tersebut bukanlah tulisan saya. Bahkan, beliau menunjukkan tangkapan layar artikel yang menjadi sumber caption tersebut, yang isi tulisannya sama persis dengan unggahan di media sosial pejabat tersebut.




Meski penjelasan tersebut telah diberikan, Fira tetap menyatakan tidak menerima penjelasan itu dan tetap menyampaikan niatnya untuk melaporkan saya.

Dalam salah satu rekaman suara yang saya simpan hingga hari ini, ia mengatakan:

"Sore, ini Fei masih pakai nama 'Perusahaan Menyala' sebagai CEO ya. Jadi saya mau lanjut nih secara hukum karena Fei sudah melanggar apa yang sudah dijanjikan. Fei nggak tobat nih, masih keliaran di KLHK."

Kalimat itu masih saya ingat dengan jelas.

Yang membuat saya bertanya-tanya hingga hari ini adalah bagian ketika ia mengatakan bahwa saya "masih keliaran di KLHK."

Saya tidak pernah benar-benar memahami maksud kalimat tersebut.

Apakah artinya saya tidak boleh lagi berhubungan dengan Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan? Apakah saya tidak boleh lagi berkarya di bidang pengelolaan sampah? Atau apakah setelah saya mengundurkan diri dari perusahaan tersebut, saya dianggap tidak lagi berhak berkontribusi di sektor yang telah saya tekuni selama bertahun-tahun?

Saya tidak pernah memperoleh jawaban atas pertanyaan-pertanyaan itu.

Setelah suami saya memberikan penjelasan secara lengkap, Fira tidak lagi membalas pesan tersebut.

Hal yang juga membuat saya heran adalah, saat itu saya sama sekali tidak menggunakan nama Perusahaan Menyala. Bahkan, akun resmi perusahaan tersebut sebelumnya telah mengumumkan kepada publik bahwa saya sudah tidak lagi bekerja di sana. Pengumuman itu disampaikan dengan narasi yang, menurut pandangan saya, cenderung menyudutkan posisi saya dan berpotensi membentuk opini negatif terhadap diri saya.


Bahkan sebelum peristiwa ini, pernah ada unggahan lain yang menampilkan foto saya dengan wajah yang dibuat buram (blur). Sayangnya, unggahan tersebut telah dihapus sebelum saya sempat menyimpan tangkapan layarnya.

Pada saat itu, saya masih berharap semua ini dapat diselesaikan melalui komunikasi yang baik.

Saya sama sekali tidak pernah membayangkan bahwa sebuah unggahan media sosial yang bahkan bukan saya buat akan menjadi titik awal dari rangkaian persoalan hukum yang panjang, melelahkan, dan pada akhirnya mengubah begitu banyak aspek dalam hidup saya.

Dan saya juga tidak pernah menyangka, bahwa usia 40, yang katanya adalah awal kehidupan baru, justru menjadi awal dari ujian terbesar yang pernah saya hadapi.

Senin, 08 September 2025

Sehari lagi - Alasan hidup

Pagi ini aku terbangun, (sayangnya).

Ya, sayang sekali, karena aku berharap tidak bangun pagi ini.

Sekuat tenaga aku berusaha membangunkan tubuhku, berat sekali.
Jangankan bangun, buka mata saja berat karena air mata terus mengalir.

Ya, aku masih harus hidup sehari lagi, hari ini.

Setelah emosi sedikit mereda, aku mulai bertanya pada diri sendiri: apa yang membuatku masih ingin hidup?

Pertanyaan itu terus bergema di dalam kepalaku, seperti bisikan yang terus mengulang tanpa henti.
Aku mencoba mencari jawabannya, namun yang kutemukan hanya hening.
Hening yang menyakitkan.
Hening yang membuatku sadar, mungkin sebenarnya aku tidak punya alasan yang cukup.

Dari sekian banyak orang-orang yang menyayangiku, bahkan tidak cukup untuk membuatku ingin hidup. 

Tapi, justru karena aku terlalu mencintai mereka. 

Aku, manusia gagal ini, takut lebih mengecewakan lagi. Aku bukan lagi seseorang yang mereka banggakan, aku manusia gagal.

Tapi... kenapa aku bertanya?

Setidaknya ada secuil bagian dari otakku yang ternyata masih berfungsi dan bisa mempertanyakan. 

Aku menatap langit-langit kamar  dengan cahaya pagi menembus tirai, dan menemukan jawaban.

Aku tidak butuh alasan apapun untuk tetap hidup. 

Aku hidup karena aku masih harus hidup, dan selama masih harus hidup maka aku harus menjalani sebaik-baiknya.

Mandi, menyeduh kopi, menikmati beberapa gorengan yang tersaji di meja, bekerja, menjalani dan menikmati setiap detik yang berlalu seolah ini hari terakhir ku didunia. 

Memberi senyum kepada setiap orang yang kutemui, memastikan meninggalkan kesan yang baik untuk orang-orang yang besok akan kutinggalkan. Walaupun aku tahu, sekejap saja aku akan dilupakan dari dunia ini. 

Akhirnya hari ini terlewati, sisa beberapa jam yang akan kuhabiskan dalam lelap.

Semoga besok perih ini hilang, bukankah itu berarti aku sudah tidak ada lagi?

Bagaimana kalo masih harus hidup.

Aku menarik napas panjang, berat, lalu bergumam lirih pada diriku sendiri:
"Baiklah. Satu hari lagi. Hanya satu hari lagi.

Sehari Lagi - Hancur

Aku terduduk, diam, memandangi hidup yang hancur di depan mataku.

Aku tidak bisa menyangkal lagi. Aku merasa gagal.

Gagal menjadi istri, gagal menjadi ibu, gagal menjadi anak, gagal menjadi manusia.


Segala hal yang kubangun, runtuh.

Semua usaha, semua lelah, semua pengorbanan, semuanya tidak ada artinya lagi.


Atas hal yang tidak kumengerti alasannya.


Perlahan aku mencoba memungut serpihan satu per satu,

tapi entah kenapa… berat sekali.


Bingung harus mulai dari mana.


Sekilas aku melihat sekeliling.

Beberapa tembok masih berdiri rapi, ada beberapa yang masih menemani.

Tapi melihat mereka terluka, membuatku semakin terluka.


Kata-kata itu terus terngiang.

"kamu gagal! kamu tidak kompeten!" dan berbagai kalimat mengintimidasi

Anehnya aku terhipnotis dan percaya.

Aku meng-amini betapa bodoh dan naifnya aku selama ini, mengerjakan segala sesuatunya dengan tulus, padahal ada tujuan lain yang tidak kumengerti yang kuabaikan, kukira kami sama-sama tulus.

Aku membiarkan kata-kata itu membentuk ulang diriku.

Bukan jadi versi yang lebih kuat, tapi lebih hancur.

Aku mengamini aku bodoh, aku gagal dan aku hancur.


Menangis pun aku tak pantas.

Katanya “drama”, itu “pura-pura” agar dapat simpati, atau malah dikira “kesetanan.”

Aku, yang bahkan selalu menyembunyikan perasaan dan terpaksa membiarkan air mata mengalir karena tidak mampu lagi membendungnya. Aku mengijinkan diri ini terlihat rapuh.

Tidak ada lagi yang dipertahankan didunia ini, tidak ingin apapun.

Bahkan aku tidak lagi dapat membedakan mana yang nyata dan mana yang fana.


Saat ini, semua yang kulakukan tampak salah.

Rasanya, terlahir ke dunia pun yang sudah dan pernah ku perbuat.

Salah.


Dan luka itu terlalu dalam.


Batin tidak lagi sanggup melawan.

Aku hanya mampu bertahan, semampuku.

Berdiri sebisanya, walau gemetar.

Bukan untuk menunjukan diri pada siapapun, kecuali pada diri sendiri.

Menyadarkan, bahwa aku masih hidup.

Walau dalam hati… aku merasa mati.


Bernafas saja walau sambil menangis, yang penting bernafas.

Mari kita hidup sehari ini saja.

:)


Minggu, 22 Oktober 2023

Lelahalu

Lelah berpura-pura mencari sesuatu yang tahu tidak mungkin ditemukan.
Orang pikir aku bahagia dengan semua yang ada, padahal orang yang peduli saja tak ada.
Terbangun pukul 2 setiap hari, Kalo beruntung ya bisa tidur Lagi. Biasanya, terus overthinking sampai pagi.
Membayangkan sebuah pelukan dan kalimat "tenang sayang, kamu ga sendiri." Nyatanya kesadaran ini tidak bisa dipermainkan oleh halusinasi.

Bagaimana bisa memperbaiki sesuatu yang memang sudah hancur? Bisa katanya. Tidak ada yang mustahil bagi Tuhan.
Bisa sih memang, seandainya ada kesadaran untuk bertanggungjawab.

Pulang larut dengan alasan untuk bekerja, tapi hasilnya entah kemana.
Muka muram, jawaban ketus, dan semua hal yang coba kusyukuri pada akhirnya hanya bisa kusesali.

Aku yang salah?
Iya. Harusnya bisa lebih sabar
Memaklumi semua yang dia lakukan.

Ga apa2, lihat saja perempuan2 itu.
Ga apa2, hubungi saja mereka 
Ga apa2, temui saja
Bayar saja.
Tidak perlu peduli dirumah, semua kuurus dengan baik.
Ga apa2, ga perlu pedulikan tentang Citra diriku yang hancur.
Ga apa2, ga perlu pikirkan perasaanku.
Ga apa2, harusnya aku selalu berhasil untuk memastikan diri ini semua ga apa2.
Bukannya mencari validasi bahwa masih ada hal baik dalam diri saya, dan mencari alasan bahwa saya juga berhak dicintai.

Apa Iya saya berhak dicintai?
Pertanyaan ini aja sulit untuk kujawab.
Selalu berjuang dengan trust issue yang membuat hidup semakin runyam.

Belajar, berproses.
Sampai titik ini.

Berdamai dengan keadaan.
Walau sakitnya kadang tak tertahankan.

Berharap datang sebuah harapan,
Tapi lagi-lagi dikecewakan.
Masih mending cuma kecewa, lebih banyak Ancaman, hinaan, dan semua yang mendatangkan penyesalan.

Entah dimana bisa menemukan kedamaian.
Apakah mampu diri ini bertahan sendiri sampai akhirnya?
Berpura-pura kuat dan bahagia padahal nyatanya serapuh itu.

Aku ingin hidup lebih lama, dengan bahagia.
Andaikan boleh aku memohon.
Ijinkan aku untuk bertemu seseorang yang bisa menyayangi aku seperti ayahku.
Seseorang yang membuat aku tidak takut apapun.
Seseorang yang menguatkan kakiku untuk melangkah.
Seseorang yang memelukku dan mencium keningku setiap pagi
Seseorang yang mendoakanku dan membawaku pada kebaikan
Seseorang yang menjadikan aku ratu dihidupnya
Seseorang yang sabar membimbingku untuk menjadi manusia yang lebih baik
Seseorang yang mau mendengarkan mimpiķu.

Seseorang yang mau berjuang untuk mewujudkan mimpi bersama.

Seseorang yang selalu menjawab pertanyaanku
Seseorang yang selalu aku tunggu ceritanya
Seseorang yang dapat selalu aku banggakan.
Seseorang yang selalu cukup dengan diriku.

Seseorang yang akan sering bertanya
Sayang, kamu lagi apa?
Sayang, kamu baik-baik aja?
Sayang, kerjaan gimana?
Sayang, nonton yuk
Sayang, thankyou ya
Sayang, cape ya? Sini peluk.
Sayang, lari bareng yuk
Sayang..... Iya sayang semuanya cuma halu
🤣🤣🤣


Sabtu, 09 September 2023

Nasehat aja

Nasehat aja, karena dulu ga ada yang ngajarin saya ttg hal ini.

Hati-hati pilih pasangan.
Lihat bibit bebet bobot.

Jangan pernah berharap bisa mengubah seseorang.

- orang yang lahir dan dibesarkan oleh ayah yg tidak bertanggungjawab cenderung akan menjadi orang yang tidak bertanggungjawab juga.

- orang yang terbiasa ketus dan menjawab dengan tidak Hormat akan cenderung memperlakukan pasangan dengan ketus dan tidak hormat juga, walaupun ditanya baik-baik dia akan terbiasa ketus dan menjawab dengan nada marah. Karena sudah terbiasa begitu.

- orang yang terbiasa dengan gaya hidup tidak sehat, makan makanan tidak sehat, tidak pernah berolahraga dsb. Tidak akan mudah berubah begitu saja. Perlu suatu kejadian besar yang mengubah hidupnya. Kejadian besar tersebut tidak mungkin keadaan yang menyenangkan, pasti akan sangat menyakitkan. Siapkah mendampingi dalam keadaan menyakitkan tsb?

- orang yang tidak pernah punya mimpi akan selalu hanya hidup hari ini. Jangan harap bisa berbagi harapan dan cita-cita dengannya. Jangan harap bisa berbagi beban tentang masa depan anak, apalagi Kalo soal materi. Jangan mimpi untuk membangun rumah masa depan. Asalkan bisa tidur aja cukup, dimana aja bisa.
Makanya cari perempuan yang bisa diajak susah.
Hati-hati sama orang kaya gini.
Sederhana dan males itu tipis bedanya.

Orang bisa terlihat Rohani dan seolah dekat dengan Tuhan, semua kepura-puraan tidak pernah bisa bertahan lama.
Dan siapkan kita menerima semua kemunafikan?

Sekali lagi.
Hati-hati memilih pasangan hidup.
Seumur hidup itu terlalu lama.
Ambil keputusan saat kita menyadarinya.
Semakin cepat sadar tentu resiko semakin dapat diminimalisir.
Semakin lama semakin berat.
Dan akan semakin berat dengan beban dan nilai bernama adat, budaya apalagi agama.