Sebelum saya melanjutkan cerita mengenai proses hukum yang kemudian terjadi, saya merasa perlu menjelaskan satu hal terlebih dahulu.
Mengapa saya mendirikan sebuah perusahaan baru?
Banyak orang mungkin mengira bahwa pendirian perusahaan baru berarti saya ingin meninggalkan Perusahaan Menyala (bukan nama sebenarnya). Padahal, kenyataannya justru sebaliknya.
Perusahaan Menyala adalah rumah yang saya bangun dari nol (kalo tidak dari minus).
Pada tahun 2019, saya memulainya hanya dengan sebuah mesin press kecil, satu gudang sederhana, dan sebuah mimpi yang mungkin terdengar terlalu besar saat itu: mengubah perilaku masyarakat Indonesia bagaimana seharusnya mereka mengelola sampah.
Sejak awal, tujuan kami bukanlah mencari keuntungan sebesar-besarnya.
Kami adalah organisasi yang percaya bahwa dampak sosial jauh lebih penting daripada sekadar keuntungan finansial. Visi kami sederhana, tetapi tidak mudah diwujudkan: mengajak masyarakat memilah sampah dari sumbernya, membangun kebiasaan baru, dan menciptakan sistem ekonomi sirkular yang mampu memberikan manfaat bagi lingkungan sekaligus masyarakat.
Model bisnis kami saat itu adalah Bank Sampah. Kami membeli sampah yang sudah dipilah oleh masyarakat, kemudian menjualnya kembali ke industri daur ulang.
Sedikit demi sedikit kami bertumbuh.
Dari satu mesin press kecil, kami berkembang hingga memiliki dua mesin press berkapasitas besar, conveyor, dan berbagai mesin pendukung lainnya. Tidak semua mesin beroperasi secara maksimal, tetapi semuanya merupakan bagian dari proses belajar kami mencari teknologi yang paling sesuai untuk kondisi pengelolaan sampah di Indonesia.
Bidang ini masih sangat baru. Tidak ada rumus yang benar-benar pasti. Hampir setiap hari kami belajar, mencoba, gagal, lalu mencoba lagi.
Namun, seiring berjalannya waktu, saya menyadari satu kenyataan yang tidak bisa saya abaikan. Model bisnis Bank Sampah memiliki dampak sosial yang besar, tetapi sangat sulit untuk bertahan secara finansial.
Biaya operasionalnya sangat tinggi.
Kami harus mengedukasi masyarakat setiap hari. Tim kami harus berkeliling menjemput sampah dari berbagai lokasi yang berjauhan. Kami harus membayar tenaga lapangan, sopir, admin, edukator, dan berbagai kebutuhan operasional lainnya.
Mengubah perilaku masyarakat ternyata jauh lebih mahal daripada yang pernah saya bayangkan.
Di sisi lain, pendapatan dari selisih harga jual dan beli sampah sering kali tidak cukup untuk menutup seluruh biaya tersebut.
Saya mulai bertanya kepada diri sendiri.
Bagaimana caranya agar misi sosial ini tetap bisa berjalan tanpa terus bergantung pada bantuan atau donor? Bagaimana agar perusahaan yang telah saya bangun ini bisa bertahan dalam jangka panjang?
Pertanyaan itulah yang terus saya pikirkan.
Hingga pada tahun 2022, saya bertemu kembali dengan seorang teman lama.
Kami berdiskusi panjang mengenai masa depan pengelolaan sampah di Indonesia. Saat itu ia sedang mengembangkan sistem digital, sementara saya memiliki pengalaman membangun ekosistem Bank Sampah di lapangan.
Dari banyak diskusi tersebut, kami melihat adanya celah yang belum terisi.
Bank Sampah melayani masyarakat yang sudah memiliki kebiasaan memilah sampah dengan baik.
Namun, jumlah masyarakat yang belum mampu memilah sampah jauh lebih besar. Mereka sebenarnya ingin berkontribusi, tetapi belum memiliki kemampuan atau kebiasaan memilah sesuai standar Bank Sampah.
Kami melihat kelompok masyarakat inilah yang membutuhkan sebuah "jembatan".
Dari sanalah lahir gagasan untuk membangun sebuah perusahaan baru yang bergerak di bidang waste management. Kebetulan teman saya ini memiliki beberapa potensi yang sedang dijajaki dan saya tertarik untuk bisa belajar lebih banyak lagi.
Perusahaan ini memiliki model bisnis yang berbeda dengan Bank Sampah.
Jika Bank Sampah bergerak pada perdagangan sampah terpilah, maka perusahaan baru ini menyediakan jasa pengelolaan sampah bagi masyarakat, institusi, maupun perusahaan yang belum mampu melakukan pemilahan dengan baik. Tujuannya adalah menjadi pintu masuk agar semakin banyak orang dapat mulai berpartisipasi dalam pengelolaan sampah, kemudian secara bertahap berkembang menjadi nasabah Bank Sampah. Dengan demikian, kedua entitas tersebut dirancang untuk saling melengkapi, bukan saling bersaing.
Saya sengaja membangun perusahaan baru karena saya tidak ingin membebani Perusahaan Menyala yang saat itu kondisi keuangannya masih mengalami kerugian.
Saya juga ingin memastikan bahwa apabila model bisnis baru ini gagal, dampaknya tidak akan mengganggu operasional Perusahaan Menyala yang sudah bertahun-tahun kami bangun.
Sebaliknya, apabila berhasil, saya berharap perusahaan baru ini justru dapat membantu memperkuat keberlangsungan Perusahaan Menyala.
Salah satu pertanyaan yang kemudian sering muncul adalah mengapa perusahaan baru tersebut menggunakan alamat yang sama dengan Perusahaan Menyala.
Jawabannya sebenarnya sederhana.
Pada saat itu, seluruh sampah yang berhasil dipilah melalui operasional perusahaan baru akan disalurkan ke Perusahaan Menyala sehingga menjadi tambahan pendapatan bagi perusahaan tersebut. Penggunaan lokasi yang sama juga membuat operasional menjadi jauh lebih efisien. Kami tidak perlu memiliki dua fasilitas dengan fungsi yang hampir serupa, dan sebagai Direktur Utama saat itu saya merasa penggunaan fasilitas tersebut merupakan keputusan operasional yang wajar dan dilakukan dengan itikad baik demi efisiensi.
Saya juga ingin meluruskan satu hal.
Saya tidak pernah berusaha menyembunyikan keberadaan perusahaan baru ini.
Sejak awal berdiri, saya secara terbuka memperkenalkan INGRAM melalui media sosial. Hampir seluruh perjalanan kami saya dokumentasikan, mulai dari kegiatan edukasi masyarakat, kerja sama dengan pemerintah daerah, pengembangan teknologi, hingga berbagai program pengelolaan sampah di berbagai kota.
Semua saya unggah secara terbuka.
Bahkan, Fira maupun beberapa pengurus lainnya mengikuti perkembangan tersebut. Saya mengetahui hal itu karena berbagai unggahan tersebut mendapatkan interaksi, termasuk tanda suka (likes), dari mereka.
Tidak hanya melalui media sosial, dalam berbagai pertemuan saya juga beberapa kali menyampaikan tentang program-program yang saya sedang kerjakan di beberapa daerah di Indonesia. Saya menjelaskan bahwa tujuan utama kegiatan ini adalah memperluas dampak pengelolaan sampah dan memperkuat ekosistem yang selama ini dibangun oleh Perusahaan Menyala.
Karena itu, bagi saya, keberadaan INGRAM bukanlah sesuatu yang pernah saya sembunyikan.
Justru sebaliknya.
Saya selalu bangga menceritakan apa yang sedang kami bangun karena saya percaya tujuan kami adalah tujuan yang baik.
Saya memang tidak yakin seluruh gagasan ini akan diterima oleh semua pengurus. Dalam beberapa tahun terakhir saya merasa dukungan terhadap berbagai ide pengembangan perusahaan mulai berkurang. Namun, saya tidak pernah berniat menjalankan sesuatu secara diam-diam ataupun mengambil manfaat pribadi dari perusahaan yang telah saya bangun bersama.
Yang saya lakukan hanyalah berusaha mencari cara agar mimpi besar kami tetap bisa hidup.
Selama bertahun-tahun saya berkeliling ke berbagai daerah di Indonesia. Saya mencari pendanaan, membangun kerja sama, mengembangkan program pengelolaan sampah, dan sering kali harus meninggalkan keluarga selama berhari-hari.
Semua itu saya lakukan bukan demi kepentingan pribadi.
Saya melakukannya karena saya percaya bahwa Indonesia bisa memiliki sistem pengelolaan sampah yang lebih baik.
Saya percaya masyarakat Indonesia suatu hari bisa memilah sampah.
Saya percaya ekonomi sirkular bukan sekadar konsep, tetapi sesuatu yang bisa diwujudkan.
Ironisnya, keuntungan yang diperoleh dari berbagai program tersebut justru berkali-kali saya gunakan untuk membantu menutup biaya operasional Perusahaan Menyala yang harus menanggung beban tenaga kerja dan biaya operasional yang sangat besar.
Pada masa itu, pikiran saya hanya satu.
Bagaimana caranya agar perusahaan yang saya bangun sejak 2019 ini tidak hanya bertahan, tetapi juga mampu memberikan dampak yang lebih besar bagi Indonesia.






