Rabu, 15 Juli 2026

Sebuah Invoice yang Mengubah Segalanya

 

Sekitar tahun 2023, saya dihubungi oleh seseorang yang ternyata masih memiliki hubungan keluarga dengan Fira.

Ia menyampaikan bahwa kompleks perumahannya sedang mencari perusahaan yang dapat mengelola sampah secara lebih baik. Saat itu, INGRAM masih berada pada tahap awal pengembangan. Kami belum memiliki banyak pengalaman maupun sumber daya untuk menangani kawasan sebesar itu, yang terdiri dari sekitar 1.500 rumah dan 100 lebih area komersil.

Sejujurnya, saya belum cukup percaya diri untuk mengambil pekerjaan sebesar itu melalui INGRAM.

Karena itulah, saya memutuskan proyek tersebut tetap dijalankan melalui Perusahaan Menyala, sementara pekerjaan operasionalnya dikerjakan oleh perusahaan lain yang sudah lebih berpengalaman, yaitu PT Khazan (bukan nama sebenarnya).

Skemanya sederhana. Perusahaan Menyala menerima pembayaran dari pengelola perumahan, kemudian sebagian besar dana tersebut dibayarkan kembali kepada PT Khazan sebagai pelaksana operasional di lapangan.

Dengan kata lain, Perusahaan Menyala tidak memperoleh keuntungan dari jasa pengelolaan sampah itu sendiri. Sebagian besar pembayaran habis untuk membayar pihak ketiga, biaya operasional, sewa kendaraan, koordinasi lapangan, dan berbagai kebutuhan teknis lainnya.

Manfaat yang kami harapkan justru berasal dari sisi lain.

Sampah yang telah dipilah dari kawasan tersebut masuk ke Perusahaan Menyala sehingga menjadi tambahan pendapatan dari hasil penjualan material daur ulang. Pola ini sejalan dengan gagasan yang sebelumnya saya bayangkan ketika membangun INGRAM, yaitu menciptakan sinergi antara layanan waste management dan Bank Sampah. 

Bagi saya pribadi, proyek ini juga menjadi proses belajar.

Kami belajar bagaimana mengelola layanan waste management dalam skala yang lebih besar, memahami tantangan operasional, serta membangun sistem yang suatu hari nanti dapat dijalankan secara mandiri.

Namun, kerja sama tersebut tidak berlangsung lama.

Di tengah perjalanan, PT Khazanah meminta penyesuaian harga. Di sisi lain, pihak pengelola perumahan belum bersedia menaikkan nilai kontrak. Akhirnya, kontrak dengan PT Khazanah berakhir.

Sementara itu, layanan kepada warga tidak mungkin dihentikan begitu saja.

Sampah tetap harus diangkut setiap hari.

Pelayanan harus tetap berjalan.

Dalam kondisi itulah saya mengambil keputusan agar pekerjaan operasional sementara dialihkan kepada INGRAM, menggunakan skema yang sama seperti sebelumnya ketika dikerjakan oleh PT Khazan. Tujuannya hanya satu: memastikan pelayanan kepada warga tetap berjalan sambil menunggu proses negosiasi ulang dengan pihak pengelola perumahan.

Sayangnya, tepat pada masa transisi tersebut, terjadi sebuah kesalahan administrasi.

Baru sekitar satu bulan pekerjaan berjalan, Perusahaan Menyala menerbitkan invoice kepada pihak perumahan seperti biasanya.

Namun pada saat yang sama, salah satu karyawan yang menjadi PIC proyek, sebut saja Kenny (bukan nama sebenarnya), sedang berada dalam masa pengunduran diri dan diketahui sedang menghadapi persoalan pribadi.

Dalam proses administrasi itulah terjadi kekeliruan.

Invoice yang dikirim kepada pihak perumahan menggunakan kop surat INGRAM, padahal seharusnya tetap menggunakan kop surat Perusahaan Menyala. Skema yang saya rancang sebenarnya tidak berubah: Perusahaan Menyala tetap menjadi pihak yang berkontrak dengan perumahan, kemudian membayarkan pekerjaan tersebut kepada INGRAM sebagai pelaksana operasional, sama seperti sebelumnya kepada PT Khazan.

Kesalahan tersebut murni merupakan kesalahan administratif.

Namun sebelum saya sempat menjelaskan duduk perkaranya, persoalan itu berkembang menjadi jauh lebih besar.

Pada waktu yang hampir bersamaan, saya sedang berada di luar negeri mengikuti dua program short course, masing-masing di Denmark dan Jepang.

Kedua program tersebut saya ikuti melalui beasiswa penuh.

Seluruh biaya perjalanan, akomodasi, dan kegiatan ditanggung oleh penyelenggara. Saya bahkan menerima uang saku (stipend) selama mengikuti program tersebut. Saya sama sekali tidak menggunakan dana Perusahaan Menyala untuk membiayai perjalanan tersebut.

Namun, di tengah situasi yang sudah memanas, muncul dugaan bahwa keberangkatan saya ke luar negeri dibiayai menggunakan uang perusahaan.

Saya bahkan mengetahui bahwa Fira sempat menghubungi suami saya dan mengatakan,

"Saya tahu gaji kamu berapa, dan nggak mungkin kamu bisa membiayai Fei ke luar negeri."

Kalimat itu membuat saya sedih.

Bukan karena persoalan uangnya.

Melainkan karena saya merasa seluruh perjuangan yang saya lakukan untuk mendapatkan kesempatan belajar melalui beasiswa seolah tidak berarti.

Sepulang dari luar negeri, hal pertama yang saya lakukan bukanlah beristirahat. Saya memilih menemui Fira. Kami mengadakan pertemuan di rumahnya bersama beberapa pengurus lainnya.

Saya datang dengan harapan dapat menjelaskan semuanya secara terbuka.

Namun, pertemuan itu tidak berjalan seperti yang saya bayangkan.

Selama pertemuan, saya lebih banyak menerima berbagai tuduhan dan penilaian terhadap diri saya. Saya dikatakan tidak kompeten, dianggap tidak mampu memimpin, dan mendengar banyak kalimat yang menyudutkan kapasitas maupun integritas saya.

Saat itu saya baru saja menyelesaikan perjalanan panjang dari luar negeri.

Secara fisik saya kelelahan.

Secara mental saya juga tidak memiliki cukup waktu untuk mempersiapkan diri menghadapi situasi tersebut.

Saya berusaha mendengarkan semuanya, tetapi terus terang, saya merasa seperti sedang diadili sebelum benar-benar diberi kesempatan menjelaskan.

Hari itu saya pulang dengan perasaan yang sangat hancur.

Bukan hanya karena tuduhan yang saya dengar, tetapi karena untuk pertama kalinya sejak membangun organisasi yang saya cintai ini, saya merasa kehilangan tempat untuk didengar.

Saya tidak tahu harus mulai menjelaskan dari mana.

Dan saya juga tidak tahu bahwa pertemuan itu hanyalah awal dari rangkaian peristiwa yang jauh lebih besar.

Life Begins at 40

Life Begins at 40, They Said.

Katanya, hidup dimulai di usia 40.

Semua bermula pada 4 Februari 2025, tepat di hari ulang tahun saya.

Hari itu, saya mendapat kesempatan untuk mendukung kegiatan Ibu-ibu Seru (organisasi sekumpulan istri menteri) dalam rangkaian peringatan Hari Peduli Sampah Nasional. Mereka diperkenalkan pada aktivitas pemberdayaan masyarakat dan pengelolaan sampah yang kami lakukan di daerah tersebut. Dalam kegiatan tersebut, saya diperkenalkan kepada seorang pejabat yang saat itu bahkan tidak langsungsaya ingat siapa. Saya juga tidak memiliki hubungan ataupun komunikasi sebelum dan sesudahnya dengan beliau, bahkan sampai hari ini.

Acara berlangsung dengan baik. Pada rangkaian acara ditayangkan sebuah video yang menampilkan aktivitas pengelolaan sampah dan pemberdayaan masyarakat yang saya beserta tim lakukan di lokasi tersebut.

Beberapa waktu setelah kegiatan selesai, tanpa sepengetahuan saya, pejabat tersebut mengunggah apresiasi terhadap saya dan kegiatan itu di media sosial pribadinya. Caption yang digunakan ternyata mengambil kutipan dari sebuah artikel di Google yang telah terbit pada tahun 2022.

Saya sendiri tidak mengikuti akun media sosial beliau, sehingga saya bahkan tidak mengetahui adanya unggahan tersebut. Namun, seseorang yang mengikuti akun tersebut mengambil tangkapan layar unggahan itu dan mengirimkannya kepada seseorang yang dalam tulisan ini saya sebut dengan nama Fira (bukan nama sebenarnya).

Tidak lama kemudian, saya menerima rekaman suara dari Fira. Dalam rekaman tersebut, ia menuduh saya masih memanfaatkan nama Perusahaan "Menyala" (bukan nama sebenarnya) untuk kepentingan pribadi. Ia juga menyampaikan bahwa ia akan melaporkan saya ke kepolisian dengan tuduhan bahwa saya masih menggunakan nama perusahaan tersebut

Tuduhan tersebut membuat saya terkejut. Karena sejak mengundurkan diri dari perusahaan tersebut pada 28 November 2024, saya sama sekali tidak lagi menggunakan nama maupun identitas lembaga tersebut dalam aktivitas profesional saya.



Saya memilih untuk tidak membalas rekaman suara tersebut karena merasa tidak melakukan hal yang dituduhkan.

Namun, persoalan tidak berhenti di situ.

Fira kemudian menghubungi suami saya dan kembali menyampaikan ancaman yang sama, yaitu akan melaporkan saya ke pihak kepolisian. Suami saya berusaha menjelaskan bahwa caption yang diunggah oleh pejabat tersebut bukanlah tulisan saya. Bahkan, beliau menunjukkan tangkapan layar artikel yang menjadi sumber caption tersebut, yang isi tulisannya sama persis dengan unggahan di media sosial pejabat tersebut.




Meski penjelasan tersebut telah diberikan, Fira tetap menyatakan tidak menerima penjelasan itu dan tetap menyampaikan niatnya untuk melaporkan saya.

Dalam salah satu rekaman suara yang saya simpan hingga hari ini, ia mengatakan:

"Sore, ini Fei masih pakai nama 'Perusahaan Menyala' sebagai CEO ya. Jadi saya mau lanjut nih secara hukum karena Fei sudah melanggar apa yang sudah dijanjikan. Fei nggak tobat nih, masih keliaran di KLHK."

Kalimat itu masih saya ingat dengan jelas.

Yang membuat saya bertanya-tanya hingga hari ini adalah bagian ketika ia mengatakan bahwa saya "masih keliaran di KLHK."

Saya tidak pernah benar-benar memahami maksud kalimat tersebut.

Apakah artinya saya tidak boleh lagi berhubungan dengan Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan? Apakah saya tidak boleh lagi berkarya di bidang pengelolaan sampah? Atau apakah setelah saya mengundurkan diri dari perusahaan tersebut, saya dianggap tidak lagi berhak berkontribusi di sektor yang telah saya tekuni selama bertahun-tahun?

Saya tidak pernah memperoleh jawaban atas pertanyaan-pertanyaan itu.

Setelah suami saya memberikan penjelasan secara lengkap, Fira tidak lagi membalas pesan tersebut.

Hal yang juga membuat saya heran adalah, saat itu saya sama sekali tidak menggunakan nama Perusahaan Menyala. Bahkan, akun resmi perusahaan tersebut sebelumnya telah mengumumkan kepada publik bahwa saya sudah tidak lagi bekerja di sana. Pengumuman itu disampaikan dengan narasi yang, menurut pandangan saya, cenderung menyudutkan posisi saya dan berpotensi membentuk opini negatif terhadap diri saya.


Bahkan sebelum peristiwa ini, pernah ada unggahan lain yang menampilkan foto saya dengan wajah yang dibuat buram (blur). Sayangnya, unggahan tersebut telah dihapus sebelum saya sempat menyimpan tangkapan layarnya.

Pada saat itu, saya masih berharap semua ini dapat diselesaikan melalui komunikasi yang baik.

Saya sama sekali tidak pernah membayangkan bahwa sebuah unggahan media sosial yang bahkan bukan saya buat akan menjadi titik awal dari rangkaian persoalan hukum yang panjang, melelahkan, dan pada akhirnya mengubah begitu banyak aspek dalam hidup saya.

Dan saya juga tidak pernah menyangka, bahwa usia 40, yang katanya adalah awal kehidupan baru, justru menjadi awal dari ujian terbesar yang pernah saya hadapi.

Senin, 08 September 2025

Sehari lagi - Alasan hidup

Pagi ini aku terbangun, (sayangnya).

Ya, sayang sekali, karena aku berharap tidak bangun pagi ini.

Sekuat tenaga aku berusaha membangunkan tubuhku, berat sekali.
Jangankan bangun, buka mata saja berat karena air mata terus mengalir.

Ya, aku masih harus hidup sehari lagi, hari ini.

Setelah emosi sedikit mereda, aku mulai bertanya pada diri sendiri: apa yang membuatku masih ingin hidup?

Pertanyaan itu terus bergema di dalam kepalaku, seperti bisikan yang terus mengulang tanpa henti.
Aku mencoba mencari jawabannya, namun yang kutemukan hanya hening.
Hening yang menyakitkan.
Hening yang membuatku sadar, mungkin sebenarnya aku tidak punya alasan yang cukup.

Dari sekian banyak orang-orang yang menyayangiku, bahkan tidak cukup untuk membuatku ingin hidup. 

Tapi, justru karena aku terlalu mencintai mereka. 

Aku, manusia gagal ini, takut lebih mengecewakan lagi. Aku bukan lagi seseorang yang mereka banggakan, aku manusia gagal.

Tapi... kenapa aku bertanya?

Setidaknya ada secuil bagian dari otakku yang ternyata masih berfungsi dan bisa mempertanyakan. 

Aku menatap langit-langit kamar  dengan cahaya pagi menembus tirai, dan menemukan jawaban.

Aku tidak butuh alasan apapun untuk tetap hidup. 

Aku hidup karena aku masih harus hidup, dan selama masih harus hidup maka aku harus menjalani sebaik-baiknya.

Mandi, menyeduh kopi, menikmati beberapa gorengan yang tersaji di meja, bekerja, menjalani dan menikmati setiap detik yang berlalu seolah ini hari terakhir ku didunia. 

Memberi senyum kepada setiap orang yang kutemui, memastikan meninggalkan kesan yang baik untuk orang-orang yang besok akan kutinggalkan. Walaupun aku tahu, sekejap saja aku akan dilupakan dari dunia ini. 

Akhirnya hari ini terlewati, sisa beberapa jam yang akan kuhabiskan dalam lelap.

Semoga besok perih ini hilang, bukankah itu berarti aku sudah tidak ada lagi?

Bagaimana kalo masih harus hidup.

Aku menarik napas panjang, berat, lalu bergumam lirih pada diriku sendiri:
"Baiklah. Satu hari lagi. Hanya satu hari lagi.

Sehari Lagi - Hancur

Aku terduduk, diam, memandangi hidup yang hancur di depan mataku.

Aku tidak bisa menyangkal lagi. Aku merasa gagal.

Gagal menjadi istri, gagal menjadi ibu, gagal menjadi anak, gagal menjadi manusia.


Segala hal yang kubangun, runtuh.

Semua usaha, semua lelah, semua pengorbanan, semuanya tidak ada artinya lagi.


Atas hal yang tidak kumengerti alasannya.


Perlahan aku mencoba memungut serpihan satu per satu,

tapi entah kenapa… berat sekali.


Bingung harus mulai dari mana.


Sekilas aku melihat sekeliling.

Beberapa tembok masih berdiri rapi, ada beberapa yang masih menemani.

Tapi melihat mereka terluka, membuatku semakin terluka.


Kata-kata itu terus terngiang.

"kamu gagal! kamu tidak kompeten!" dan berbagai kalimat mengintimidasi

Anehnya aku terhipnotis dan percaya.

Aku meng-amini betapa bodoh dan naifnya aku selama ini, mengerjakan segala sesuatunya dengan tulus, padahal ada tujuan lain yang tidak kumengerti yang kuabaikan, kukira kami sama-sama tulus.

Aku membiarkan kata-kata itu membentuk ulang diriku.

Bukan jadi versi yang lebih kuat, tapi lebih hancur.

Aku mengamini aku bodoh, aku gagal dan aku hancur.


Menangis pun aku tak pantas.

Katanya “drama”, itu “pura-pura” agar dapat simpati, atau malah dikira “kesetanan.”

Aku, yang bahkan selalu menyembunyikan perasaan dan terpaksa membiarkan air mata mengalir karena tidak mampu lagi membendungnya. Aku mengijinkan diri ini terlihat rapuh.

Tidak ada lagi yang dipertahankan didunia ini, tidak ingin apapun.

Bahkan aku tidak lagi dapat membedakan mana yang nyata dan mana yang fana.


Saat ini, semua yang kulakukan tampak salah.

Rasanya, terlahir ke dunia pun yang sudah dan pernah ku perbuat.

Salah.


Dan luka itu terlalu dalam.


Batin tidak lagi sanggup melawan.

Aku hanya mampu bertahan, semampuku.

Berdiri sebisanya, walau gemetar.

Bukan untuk menunjukan diri pada siapapun, kecuali pada diri sendiri.

Menyadarkan, bahwa aku masih hidup.

Walau dalam hati… aku merasa mati.


Bernafas saja walau sambil menangis, yang penting bernafas.

Mari kita hidup sehari ini saja.

:)


Minggu, 22 Oktober 2023

Lelahalu

Lelah berpura-pura mencari sesuatu yang tahu tidak mungkin ditemukan.
Orang pikir aku bahagia dengan semua yang ada, padahal orang yang peduli saja tak ada.
Terbangun pukul 2 setiap hari, Kalo beruntung ya bisa tidur Lagi. Biasanya, terus overthinking sampai pagi.
Membayangkan sebuah pelukan dan kalimat "tenang sayang, kamu ga sendiri." Nyatanya kesadaran ini tidak bisa dipermainkan oleh halusinasi.

Bagaimana bisa memperbaiki sesuatu yang memang sudah hancur? Bisa katanya. Tidak ada yang mustahil bagi Tuhan.
Bisa sih memang, seandainya ada kesadaran untuk bertanggungjawab.

Pulang larut dengan alasan untuk bekerja, tapi hasilnya entah kemana.
Muka muram, jawaban ketus, dan semua hal yang coba kusyukuri pada akhirnya hanya bisa kusesali.

Aku yang salah?
Iya. Harusnya bisa lebih sabar
Memaklumi semua yang dia lakukan.

Ga apa2, lihat saja perempuan2 itu.
Ga apa2, hubungi saja mereka 
Ga apa2, temui saja
Bayar saja.
Tidak perlu peduli dirumah, semua kuurus dengan baik.
Ga apa2, ga perlu pedulikan tentang Citra diriku yang hancur.
Ga apa2, ga perlu pikirkan perasaanku.
Ga apa2, harusnya aku selalu berhasil untuk memastikan diri ini semua ga apa2.
Bukannya mencari validasi bahwa masih ada hal baik dalam diri saya, dan mencari alasan bahwa saya juga berhak dicintai.

Apa Iya saya berhak dicintai?
Pertanyaan ini aja sulit untuk kujawab.
Selalu berjuang dengan trust issue yang membuat hidup semakin runyam.

Belajar, berproses.
Sampai titik ini.

Berdamai dengan keadaan.
Walau sakitnya kadang tak tertahankan.

Berharap datang sebuah harapan,
Tapi lagi-lagi dikecewakan.
Masih mending cuma kecewa, lebih banyak Ancaman, hinaan, dan semua yang mendatangkan penyesalan.

Entah dimana bisa menemukan kedamaian.
Apakah mampu diri ini bertahan sendiri sampai akhirnya?
Berpura-pura kuat dan bahagia padahal nyatanya serapuh itu.

Aku ingin hidup lebih lama, dengan bahagia.
Andaikan boleh aku memohon.
Ijinkan aku untuk bertemu seseorang yang bisa menyayangi aku seperti ayahku.
Seseorang yang membuat aku tidak takut apapun.
Seseorang yang menguatkan kakiku untuk melangkah.
Seseorang yang memelukku dan mencium keningku setiap pagi
Seseorang yang mendoakanku dan membawaku pada kebaikan
Seseorang yang menjadikan aku ratu dihidupnya
Seseorang yang sabar membimbingku untuk menjadi manusia yang lebih baik
Seseorang yang mau mendengarkan mimpiķu.

Seseorang yang mau berjuang untuk mewujudkan mimpi bersama.

Seseorang yang selalu menjawab pertanyaanku
Seseorang yang selalu aku tunggu ceritanya
Seseorang yang dapat selalu aku banggakan.
Seseorang yang selalu cukup dengan diriku.

Seseorang yang akan sering bertanya
Sayang, kamu lagi apa?
Sayang, kamu baik-baik aja?
Sayang, kerjaan gimana?
Sayang, nonton yuk
Sayang, thankyou ya
Sayang, cape ya? Sini peluk.
Sayang, lari bareng yuk
Sayang..... Iya sayang semuanya cuma halu
🤣🤣🤣


Sabtu, 09 September 2023

Nasehat aja

Nasehat aja, karena dulu ga ada yang ngajarin saya ttg hal ini.

Hati-hati pilih pasangan.
Lihat bibit bebet bobot.

Jangan pernah berharap bisa mengubah seseorang.

- orang yang lahir dan dibesarkan oleh ayah yg tidak bertanggungjawab cenderung akan menjadi orang yang tidak bertanggungjawab juga.

- orang yang terbiasa ketus dan menjawab dengan tidak Hormat akan cenderung memperlakukan pasangan dengan ketus dan tidak hormat juga, walaupun ditanya baik-baik dia akan terbiasa ketus dan menjawab dengan nada marah. Karena sudah terbiasa begitu.

- orang yang terbiasa dengan gaya hidup tidak sehat, makan makanan tidak sehat, tidak pernah berolahraga dsb. Tidak akan mudah berubah begitu saja. Perlu suatu kejadian besar yang mengubah hidupnya. Kejadian besar tersebut tidak mungkin keadaan yang menyenangkan, pasti akan sangat menyakitkan. Siapkah mendampingi dalam keadaan menyakitkan tsb?

- orang yang tidak pernah punya mimpi akan selalu hanya hidup hari ini. Jangan harap bisa berbagi harapan dan cita-cita dengannya. Jangan harap bisa berbagi beban tentang masa depan anak, apalagi Kalo soal materi. Jangan mimpi untuk membangun rumah masa depan. Asalkan bisa tidur aja cukup, dimana aja bisa.
Makanya cari perempuan yang bisa diajak susah.
Hati-hati sama orang kaya gini.
Sederhana dan males itu tipis bedanya.

Orang bisa terlihat Rohani dan seolah dekat dengan Tuhan, semua kepura-puraan tidak pernah bisa bertahan lama.
Dan siapkan kita menerima semua kemunafikan?

Sekali lagi.
Hati-hati memilih pasangan hidup.
Seumur hidup itu terlalu lama.
Ambil keputusan saat kita menyadarinya.
Semakin cepat sadar tentu resiko semakin dapat diminimalisir.
Semakin lama semakin berat.
Dan akan semakin berat dengan beban dan nilai bernama adat, budaya apalagi agama.





Minggu, 12 Februari 2023

Sampai jadi debu

Pemandangan yang paling bikin saya terharu dan tersenyum adalah melihat sepasang kakek dan nenek yang masih bersama, dalam segala kesederhanaan karena mereka sudah tau apa yang essensi dalem hidup. 
saya pikir kita akan bahagia, dan kelak saya jadi nenek itu dan kamu kakeknya. Punya anak dan cucu yang banyak, kita menghabiskan masa tua dengan keliling dunia dan tinggal di pegunungan. 
Tertawa menghabiskan aktu seperti yang selama ini kita lakukan. 
kalo selama ini kita selalu kekurangan waktu, nanti kita akan punya waktu yang banyak untuk bersama. 
Setiap hari kamu akan jadi orang pertama yang aku lihat dan orang terakhir yang aku peluk sebelum kita sama-sama tidur. 
Setiap pagi kita akan duduk berhadapan di meja makan, saling menatap dan mensyukuri Setiap Hari yang berlalu.
Di sore hari, kita akan memandangi langit sore sambil tanganmu dan tanganku tak lepas tergenggam.
Aku ingin kamu jadi orang yang memelukku terakhir bahkan nanti sebelum aku pulang. 
Tapi entahlah kamu dimana sekarang. 
Aku yang diselimuti dendam tak berkesudahan, benci yang tak Kunjung surut dan pada akhirnya aku yang selalu salah sampai akhirnya kamu pergi. 
Kali ini aku tidak akan memintamu kembali. Aku tahu sudah tidak mungkin terjadi. 
Aku memilih mengubur semua masa dan harapan. 
Aku hancur dan mati. 
iya biarlah hancur dan mati. Seperti katamu selalu, ini salahku.
Iya ini salahku, dan selalu salahku. 
semoga suatu hari aku bisa hidup kembali.
Berbahagialah kamu sekarang dan nanti dan selamanya.
Aku akan selalu mengingatmu dan kenangan tentang kita, sebagai peringatan untuk selalu bersyukur dan selalu merasa bodoh. Bersyukur betapa baiknya Tuhan telah menghadirkanmu dalam hidupku dan betapa bodohnya aku sampai kehilangan kamu.
Suatu hari nanti, aku akan melihat gambarmu dan dia, mengamini mimpi kita.
Tidak apa-apa, setidaknya mimpi kita jadi nyata walau pemerannya bukan aku. 

Badai Tuan telah berlaluSalahkah ku menuntut mesra?Tiap pagi menjelangKau di sampingkuKu aman ada bersamamu
SelamanyaSampai kita tuaSampai jadi debuKu di liang yang satuKu di sebelahmu
Badai Puan telah berlaluSalahkah ku menuntut mesra?Tiap taufan menyerangKau di sampingkuKau aman ada bersamaku
SelamanyaSampai kita tuaSampai jadi debuKu di liang yang satuKu di sebelahmu