Rabu, 15 Juli 2026

Life Begins at 40

Life Begins at 40, They Said.

Katanya, hidup dimulai di usia 40.

Semua bermula pada 4 Februari 2025, tepat di hari ulang tahun saya.

Hari itu, saya mendapat kesempatan untuk mendukung kegiatan Ibu-ibu Seru (organisasi sekumpulan istri menteri) dalam rangkaian peringatan Hari Peduli Sampah Nasional. Mereka diperkenalkan pada aktivitas pemberdayaan masyarakat dan pengelolaan sampah yang kami lakukan di daerah tersebut. Dalam kegiatan tersebut, saya diperkenalkan kepada seorang pejabat yang saat itu bahkan tidak langsungsaya ingat siapa. Saya juga tidak memiliki hubungan ataupun komunikasi sebelum dan sesudahnya dengan beliau, bahkan sampai hari ini.

Acara berlangsung dengan baik. Pada rangkaian acara ditayangkan sebuah video yang menampilkan aktivitas pengelolaan sampah dan pemberdayaan masyarakat yang saya beserta tim lakukan di lokasi tersebut.

Beberapa waktu setelah kegiatan selesai, tanpa sepengetahuan saya, pejabat tersebut mengunggah apresiasi terhadap saya dan kegiatan itu di media sosial pribadinya. Caption yang digunakan ternyata mengambil kutipan dari sebuah artikel di Google yang telah terbit pada tahun 2022.

Saya sendiri tidak mengikuti akun media sosial beliau, sehingga saya bahkan tidak mengetahui adanya unggahan tersebut. Namun, seseorang yang mengikuti akun tersebut mengambil tangkapan layar unggahan itu dan mengirimkannya kepada seseorang yang dalam tulisan ini saya sebut dengan nama Fira (bukan nama sebenarnya).

Tidak lama kemudian, saya menerima rekaman suara dari Fira. Dalam rekaman tersebut, ia menuduh saya masih memanfaatkan nama Perusahaan "Menyala" (bukan nama sebenarnya) untuk kepentingan pribadi. Ia juga menyampaikan bahwa ia akan melaporkan saya ke kepolisian dengan tuduhan bahwa saya masih menggunakan nama perusahaan tersebut

Tuduhan tersebut membuat saya terkejut. Karena sejak mengundurkan diri dari perusahaan tersebut pada 28 November 2024, saya sama sekali tidak lagi menggunakan nama maupun identitas lembaga tersebut dalam aktivitas profesional saya.



Saya memilih untuk tidak membalas rekaman suara tersebut karena merasa tidak melakukan hal yang dituduhkan.

Namun, persoalan tidak berhenti di situ.

Fira kemudian menghubungi suami saya dan kembali menyampaikan ancaman yang sama, yaitu akan melaporkan saya ke pihak kepolisian. Suami saya berusaha menjelaskan bahwa caption yang diunggah oleh pejabat tersebut bukanlah tulisan saya. Bahkan, beliau menunjukkan tangkapan layar artikel yang menjadi sumber caption tersebut, yang isi tulisannya sama persis dengan unggahan di media sosial pejabat tersebut.




Meski penjelasan tersebut telah diberikan, Fira tetap menyatakan tidak menerima penjelasan itu dan tetap menyampaikan niatnya untuk melaporkan saya.

Dalam salah satu rekaman suara yang saya simpan hingga hari ini, ia mengatakan:

"Sore, ini Fei masih pakai nama 'Perusahaan Menyala' sebagai CEO ya. Jadi saya mau lanjut nih secara hukum karena Fei sudah melanggar apa yang sudah dijanjikan. Fei nggak tobat nih, masih keliaran di KLHK."

Kalimat itu masih saya ingat dengan jelas.

Yang membuat saya bertanya-tanya hingga hari ini adalah bagian ketika ia mengatakan bahwa saya "masih keliaran di KLHK."

Saya tidak pernah benar-benar memahami maksud kalimat tersebut.

Apakah artinya saya tidak boleh lagi berhubungan dengan Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan? Apakah saya tidak boleh lagi berkarya di bidang pengelolaan sampah? Atau apakah setelah saya mengundurkan diri dari perusahaan tersebut, saya dianggap tidak lagi berhak berkontribusi di sektor yang telah saya tekuni selama bertahun-tahun?

Saya tidak pernah memperoleh jawaban atas pertanyaan-pertanyaan itu.

Setelah suami saya memberikan penjelasan secara lengkap, Fira tidak lagi membalas pesan tersebut.

Hal yang juga membuat saya heran adalah, saat itu saya sama sekali tidak menggunakan nama Perusahaan Menyala. Bahkan, akun resmi perusahaan tersebut sebelumnya telah mengumumkan kepada publik bahwa saya sudah tidak lagi bekerja di sana. Pengumuman itu disampaikan dengan narasi yang, menurut pandangan saya, cenderung menyudutkan posisi saya dan berpotensi membentuk opini negatif terhadap diri saya.


Bahkan sebelum peristiwa ini, pernah ada unggahan lain yang menampilkan foto saya dengan wajah yang dibuat buram (blur). Sayangnya, unggahan tersebut telah dihapus sebelum saya sempat menyimpan tangkapan layarnya.

Pada saat itu, saya masih berharap semua ini dapat diselesaikan melalui komunikasi yang baik.

Saya sama sekali tidak pernah membayangkan bahwa sebuah unggahan media sosial yang bahkan bukan saya buat akan menjadi titik awal dari rangkaian persoalan hukum yang panjang, melelahkan, dan pada akhirnya mengubah begitu banyak aspek dalam hidup saya.

Dan saya juga tidak pernah menyangka, bahwa usia 40, yang katanya adalah awal kehidupan baru, justru menjadi awal dari ujian terbesar yang pernah saya hadapi.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar