Rabu, 15 Juli 2026

Sebuah Invoice yang Mengubah Segalanya

 

Sekitar tahun 2023, saya dihubungi oleh seseorang yang ternyata masih memiliki hubungan keluarga dengan Fira.

Ia menyampaikan bahwa kompleks perumahannya sedang mencari perusahaan yang dapat mengelola sampah secara lebih baik. Saat itu, INGRAM masih berada pada tahap awal pengembangan. Kami belum memiliki banyak pengalaman maupun sumber daya untuk menangani kawasan sebesar itu, yang terdiri dari sekitar 1.500 rumah dan 100 lebih area komersil.

Sejujurnya, saya belum cukup percaya diri untuk mengambil pekerjaan sebesar itu melalui INGRAM.

Karena itulah, saya memutuskan proyek tersebut tetap dijalankan melalui Perusahaan Menyala, sementara pekerjaan operasionalnya dikerjakan oleh perusahaan lain yang sudah lebih berpengalaman, yaitu PT Khazan (bukan nama sebenarnya).

Skemanya sederhana. Perusahaan Menyala menerima pembayaran dari pengelola perumahan, kemudian sebagian besar dana tersebut dibayarkan kembali kepada PT Khazan sebagai pelaksana operasional di lapangan.

Dengan kata lain, Perusahaan Menyala tidak memperoleh keuntungan dari jasa pengelolaan sampah itu sendiri. Sebagian besar pembayaran habis untuk membayar pihak ketiga, biaya operasional, sewa kendaraan, koordinasi lapangan, dan berbagai kebutuhan teknis lainnya.

Manfaat yang kami harapkan justru berasal dari sisi lain.

Sampah yang telah dipilah dari kawasan tersebut masuk ke Perusahaan Menyala sehingga menjadi tambahan pendapatan dari hasil penjualan material daur ulang. Pola ini sejalan dengan gagasan yang sebelumnya saya bayangkan ketika membangun INGRAM, yaitu menciptakan sinergi antara layanan waste management dan Bank Sampah. 

Bagi saya pribadi, proyek ini juga menjadi proses belajar.

Kami belajar bagaimana mengelola layanan waste management dalam skala yang lebih besar, memahami tantangan operasional, serta membangun sistem yang suatu hari nanti dapat dijalankan secara mandiri.

Namun, kerja sama tersebut tidak berlangsung lama.

Di tengah perjalanan, PT Khazanah meminta penyesuaian harga. Di sisi lain, pihak pengelola perumahan belum bersedia menaikkan nilai kontrak. Akhirnya, kontrak dengan PT Khazanah berakhir.

Sementara itu, layanan kepada warga tidak mungkin dihentikan begitu saja.

Sampah tetap harus diangkut setiap hari.

Pelayanan harus tetap berjalan.

Dalam kondisi itulah saya mengambil keputusan agar pekerjaan operasional sementara dialihkan kepada INGRAM, menggunakan skema yang sama seperti sebelumnya ketika dikerjakan oleh PT Khazan. Tujuannya hanya satu: memastikan pelayanan kepada warga tetap berjalan sambil menunggu proses negosiasi ulang dengan pihak pengelola perumahan.

Sayangnya, tepat pada masa transisi tersebut, terjadi sebuah kesalahan administrasi.

Baru sekitar satu bulan pekerjaan berjalan, Perusahaan Menyala menerbitkan invoice kepada pihak perumahan seperti biasanya.

Namun pada saat yang sama, salah satu karyawan yang menjadi PIC proyek, sebut saja Kenny (bukan nama sebenarnya), sedang berada dalam masa pengunduran diri dan diketahui sedang menghadapi persoalan pribadi.

Dalam proses administrasi itulah terjadi kekeliruan.

Invoice yang dikirim kepada pihak perumahan menggunakan kop surat INGRAM, padahal seharusnya tetap menggunakan kop surat Perusahaan Menyala. Skema yang saya rancang sebenarnya tidak berubah: Perusahaan Menyala tetap menjadi pihak yang berkontrak dengan perumahan, kemudian membayarkan pekerjaan tersebut kepada INGRAM sebagai pelaksana operasional, sama seperti sebelumnya kepada PT Khazan.

Kesalahan tersebut murni merupakan kesalahan administratif.

Namun sebelum saya sempat menjelaskan duduk perkaranya, persoalan itu berkembang menjadi jauh lebih besar.

Pada waktu yang hampir bersamaan, saya sedang berada di luar negeri mengikuti dua program short course, masing-masing di Denmark dan Jepang.

Kedua program tersebut saya ikuti melalui beasiswa penuh.

Seluruh biaya perjalanan, akomodasi, dan kegiatan ditanggung oleh penyelenggara. Saya bahkan menerima uang saku (stipend) selama mengikuti program tersebut. Saya sama sekali tidak menggunakan dana Perusahaan Menyala untuk membiayai perjalanan tersebut.

Namun, di tengah situasi yang sudah memanas, muncul dugaan bahwa keberangkatan saya ke luar negeri dibiayai menggunakan uang perusahaan.

Saya bahkan mengetahui bahwa Fira sempat menghubungi suami saya dan mengatakan,

"Saya tahu gaji kamu berapa, dan nggak mungkin kamu bisa membiayai Fei ke luar negeri."

Kalimat itu membuat saya sedih.

Bukan karena persoalan uangnya.

Melainkan karena saya merasa seluruh perjuangan yang saya lakukan untuk mendapatkan kesempatan belajar melalui beasiswa seolah tidak berarti.

Sepulang dari luar negeri, hal pertama yang saya lakukan bukanlah beristirahat. Saya memilih menemui Fira. Kami mengadakan pertemuan di rumahnya bersama beberapa pengurus lainnya.

Saya datang dengan harapan dapat menjelaskan semuanya secara terbuka.

Namun, pertemuan itu tidak berjalan seperti yang saya bayangkan.

Selama pertemuan, saya lebih banyak menerima berbagai tuduhan dan penilaian terhadap diri saya. Saya dikatakan tidak kompeten, dianggap tidak mampu memimpin, dan mendengar banyak kalimat yang menyudutkan kapasitas maupun integritas saya.

Saat itu saya baru saja menyelesaikan perjalanan panjang dari luar negeri.

Secara fisik saya kelelahan.

Secara mental saya juga tidak memiliki cukup waktu untuk mempersiapkan diri menghadapi situasi tersebut.

Saya berusaha mendengarkan semuanya, tetapi terus terang, saya merasa seperti sedang diadili sebelum benar-benar diberi kesempatan menjelaskan.

Hari itu saya pulang dengan perasaan yang sangat hancur.

Bukan hanya karena tuduhan yang saya dengar, tetapi karena untuk pertama kalinya sejak membangun organisasi yang saya cintai ini, saya merasa kehilangan tempat untuk didengar.

Saya tidak tahu harus mulai menjelaskan dari mana.

Dan saya juga tidak tahu bahwa pertemuan itu hanyalah awal dari rangkaian peristiwa yang jauh lebih besar.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar