Rabu, 29 Juli 2026

Mengapa Saya Mendirikan Perusahaan Baru

 

Sebelum saya melanjutkan cerita mengenai proses hukum yang kemudian terjadi, saya merasa perlu menjelaskan satu hal terlebih dahulu.

Mengapa saya mendirikan sebuah perusahaan baru?

Banyak orang mungkin mengira bahwa pendirian perusahaan baru berarti saya ingin meninggalkan Perusahaan Menyala (bukan nama sebenarnya). Padahal, kenyataannya justru sebaliknya.

Perusahaan Menyala adalah rumah yang saya bangun dari nol (kalo tidak dari minus).

Pada tahun 2019, saya memulainya hanya dengan sebuah mesin press kecil, satu gudang sederhana, dan sebuah mimpi yang mungkin terdengar terlalu besar saat itu: mengubah perilaku masyarakat Indonesia bagaimana seharusnya mereka mengelola sampah.

Sejak awal, tujuan kami bukanlah mencari keuntungan sebesar-besarnya.

Kami adalah organisasi yang percaya bahwa dampak sosial jauh lebih penting daripada sekadar keuntungan finansial. Visi kami sederhana, tetapi tidak mudah diwujudkan: mengajak masyarakat memilah sampah dari sumbernya, membangun kebiasaan baru, dan menciptakan sistem ekonomi sirkular yang mampu memberikan manfaat bagi lingkungan sekaligus masyarakat.

Model bisnis kami saat itu adalah Bank Sampah. Kami membeli sampah yang sudah dipilah oleh masyarakat, kemudian menjualnya kembali ke industri daur ulang.

Sedikit demi sedikit kami bertumbuh.

Dari satu mesin press kecil, kami berkembang hingga memiliki dua mesin press berkapasitas besar, conveyor, dan berbagai mesin pendukung lainnya. Tidak semua mesin beroperasi secara maksimal, tetapi semuanya merupakan bagian dari proses belajar kami mencari teknologi yang paling sesuai untuk kondisi pengelolaan sampah di Indonesia.

Bidang ini masih sangat baru. Tidak ada rumus yang benar-benar pasti. Hampir setiap hari kami belajar, mencoba, gagal, lalu mencoba lagi.

Namun, seiring berjalannya waktu, saya menyadari satu kenyataan yang tidak bisa saya abaikan. Model bisnis Bank Sampah memiliki dampak sosial yang besar, tetapi sangat sulit untuk bertahan secara finansial.

Biaya operasionalnya sangat tinggi.

Kami harus mengedukasi masyarakat setiap hari. Tim kami harus berkeliling menjemput sampah dari berbagai lokasi yang berjauhan. Kami harus membayar tenaga lapangan, sopir, admin, edukator, dan berbagai kebutuhan operasional lainnya.

Mengubah perilaku masyarakat ternyata jauh lebih mahal daripada yang pernah saya bayangkan.

Di sisi lain, pendapatan dari selisih harga jual dan beli sampah sering kali tidak cukup untuk menutup seluruh biaya tersebut.

Saya mulai bertanya kepada diri sendiri.

Bagaimana caranya agar misi sosial ini tetap bisa berjalan tanpa terus bergantung pada bantuan atau donor? Bagaimana agar perusahaan yang telah saya bangun ini bisa bertahan dalam jangka panjang? 

Pertanyaan itulah yang terus saya pikirkan.

Hingga pada tahun 2022, saya bertemu kembali dengan seorang teman lama.

Kami berdiskusi panjang mengenai masa depan pengelolaan sampah di Indonesia. Saat itu ia sedang mengembangkan sistem digital, sementara saya memiliki pengalaman membangun ekosistem Bank Sampah di lapangan.

Dari banyak diskusi tersebut, kami melihat adanya celah yang belum terisi.

Bank Sampah melayani masyarakat yang sudah memiliki kebiasaan memilah sampah dengan baik.

Namun, jumlah masyarakat yang belum mampu memilah sampah jauh lebih besar. Mereka sebenarnya ingin berkontribusi, tetapi belum memiliki kemampuan atau kebiasaan memilah sesuai standar Bank Sampah.

Kami melihat kelompok masyarakat inilah yang membutuhkan sebuah "jembatan".

Dari sanalah lahir gagasan untuk membangun sebuah perusahaan baru yang bergerak di bidang waste management. Kebetulan teman saya ini memiliki beberapa potensi yang sedang dijajaki dan saya tertarik untuk bisa belajar lebih banyak lagi. 

Perusahaan ini memiliki model bisnis yang berbeda dengan Bank Sampah.

Jika Bank Sampah bergerak pada perdagangan sampah terpilah, maka perusahaan baru ini menyediakan jasa pengelolaan sampah bagi masyarakat, institusi, maupun perusahaan yang belum mampu melakukan pemilahan dengan baik. Tujuannya adalah menjadi pintu masuk agar semakin banyak orang dapat mulai berpartisipasi dalam pengelolaan sampah, kemudian secara bertahap berkembang menjadi nasabah Bank Sampah. Dengan demikian, kedua entitas tersebut dirancang untuk saling melengkapi, bukan saling bersaing. 

Saya sengaja membangun perusahaan baru karena saya tidak ingin membebani Perusahaan Menyala yang saat itu kondisi keuangannya masih mengalami kerugian.

Saya juga ingin memastikan bahwa apabila model bisnis baru ini gagal, dampaknya tidak akan mengganggu operasional Perusahaan Menyala yang sudah bertahun-tahun kami bangun.

Sebaliknya, apabila berhasil, saya berharap perusahaan baru ini justru dapat membantu memperkuat keberlangsungan Perusahaan Menyala.

Salah satu pertanyaan yang kemudian sering muncul adalah mengapa perusahaan baru tersebut menggunakan alamat yang sama dengan Perusahaan Menyala.

Jawabannya sebenarnya sederhana.

Pada saat itu, seluruh sampah yang berhasil dipilah melalui operasional perusahaan baru akan disalurkan ke Perusahaan Menyala sehingga menjadi tambahan pendapatan bagi perusahaan tersebut. Penggunaan lokasi yang sama juga membuat operasional menjadi jauh lebih efisien. Kami tidak perlu memiliki dua fasilitas dengan fungsi yang hampir serupa, dan sebagai Direktur Utama saat itu saya merasa penggunaan fasilitas tersebut merupakan keputusan operasional yang wajar dan dilakukan dengan itikad baik demi efisiensi. 

Saya juga ingin meluruskan satu hal.

Saya tidak pernah berusaha menyembunyikan keberadaan perusahaan baru ini.

Sejak awal berdiri, saya secara terbuka memperkenalkan INGRAM melalui media sosial. Hampir seluruh perjalanan kami saya dokumentasikan, mulai dari kegiatan edukasi masyarakat, kerja sama dengan pemerintah daerah, pengembangan teknologi, hingga berbagai program pengelolaan sampah di berbagai kota.

Semua saya unggah secara terbuka.

Bahkan, Fira maupun beberapa pengurus lainnya mengikuti perkembangan tersebut. Saya mengetahui hal itu karena berbagai unggahan tersebut mendapatkan interaksi, termasuk tanda suka (likes), dari mereka.

Tidak hanya melalui media sosial, dalam berbagai pertemuan saya juga beberapa kali menyampaikan tentang program-program yang saya sedang kerjakan di beberapa daerah di Indonesia. Saya menjelaskan bahwa tujuan utama kegiatan ini adalah memperluas dampak pengelolaan sampah dan memperkuat ekosistem yang selama ini dibangun oleh Perusahaan Menyala.

Karena itu, bagi saya, keberadaan INGRAM bukanlah sesuatu yang pernah saya sembunyikan.

Justru sebaliknya.

Saya selalu bangga menceritakan apa yang sedang kami bangun karena saya percaya tujuan kami adalah tujuan yang baik.

Saya memang tidak yakin seluruh gagasan ini akan diterima oleh semua pengurus. Dalam beberapa tahun terakhir saya merasa dukungan terhadap berbagai ide pengembangan perusahaan mulai berkurang. Namun, saya tidak pernah berniat menjalankan sesuatu secara diam-diam ataupun mengambil manfaat pribadi dari perusahaan yang telah saya bangun bersama.

Yang saya lakukan hanyalah berusaha mencari cara agar mimpi besar kami tetap bisa hidup.

Selama bertahun-tahun saya berkeliling ke berbagai daerah di Indonesia. Saya mencari pendanaan, membangun kerja sama, mengembangkan program pengelolaan sampah, dan sering kali harus meninggalkan keluarga selama berhari-hari.

Semua itu saya lakukan bukan demi kepentingan pribadi.

Saya melakukannya karena saya percaya bahwa Indonesia bisa memiliki sistem pengelolaan sampah yang lebih baik.

Saya percaya masyarakat Indonesia suatu hari bisa memilah sampah.

Saya percaya ekonomi sirkular bukan sekadar konsep, tetapi sesuatu yang bisa diwujudkan.

Ironisnya, keuntungan yang diperoleh dari berbagai program tersebut justru berkali-kali saya gunakan untuk membantu menutup biaya operasional Perusahaan Menyala yang harus menanggung beban tenaga kerja dan biaya operasional yang sangat besar.

Pada masa itu, pikiran saya hanya satu.

Bagaimana caranya agar perusahaan yang saya bangun sejak 2019 ini tidak hanya bertahan, tetapi juga mampu memberikan dampak yang lebih besar bagi Indonesia.

Rabu, 15 Juli 2026

Sebuah Invoice yang Mengubah Segalanya

 

Sekitar tahun 2023, saya dihubungi oleh seseorang yang ternyata masih memiliki hubungan keluarga dengan Fira.

Ia menyampaikan bahwa kompleks perumahannya sedang mencari perusahaan yang dapat mengelola sampah secara lebih baik. Saat itu, INGRAM masih berada pada tahap awal pengembangan. Kami belum memiliki banyak pengalaman maupun sumber daya untuk menangani kawasan sebesar itu, yang terdiri dari sekitar 1.500 rumah dan 100 lebih area komersil.

Sejujurnya, saya belum cukup percaya diri untuk mengambil pekerjaan sebesar itu melalui INGRAM.

Karena itulah, saya memutuskan proyek tersebut tetap dijalankan melalui Perusahaan Menyala, sementara pekerjaan operasionalnya dikerjakan oleh perusahaan lain yang sudah lebih berpengalaman, yaitu PT Khazan (bukan nama sebenarnya).

Skemanya sederhana. Perusahaan Menyala menerima pembayaran dari pengelola perumahan, kemudian sebagian besar dana tersebut dibayarkan kembali kepada PT Khazan sebagai pelaksana operasional di lapangan.

Dengan kata lain, Perusahaan Menyala tidak memperoleh keuntungan dari jasa pengelolaan sampah itu sendiri. Sebagian besar pembayaran habis untuk membayar pihak ketiga, biaya operasional, sewa kendaraan, koordinasi lapangan, dan berbagai kebutuhan teknis lainnya.

Manfaat yang kami harapkan justru berasal dari sisi lain.

Sampah yang telah dipilah dari kawasan tersebut masuk ke Perusahaan Menyala sehingga menjadi tambahan pendapatan dari hasil penjualan material daur ulang. Pola ini sejalan dengan gagasan yang sebelumnya saya bayangkan ketika membangun INGRAM, yaitu menciptakan sinergi antara layanan waste management dan Bank Sampah. 

Bagi saya pribadi, proyek ini juga menjadi proses belajar.

Kami belajar bagaimana mengelola layanan waste management dalam skala yang lebih besar, memahami tantangan operasional, serta membangun sistem yang suatu hari nanti dapat dijalankan secara mandiri.

Namun, kerja sama tersebut tidak berlangsung lama.

Di tengah perjalanan, PT Khazanah meminta penyesuaian harga. Di sisi lain, pihak pengelola perumahan belum bersedia menaikkan nilai kontrak. Akhirnya, kontrak dengan PT Khazanah berakhir.

Sementara itu, layanan kepada warga tidak mungkin dihentikan begitu saja.

Sampah tetap harus diangkut setiap hari.

Pelayanan harus tetap berjalan.

Dalam kondisi itulah saya mengambil keputusan agar pekerjaan operasional sementara dialihkan kepada INGRAM, menggunakan skema yang sama seperti sebelumnya ketika dikerjakan oleh PT Khazan. Tujuannya hanya satu: memastikan pelayanan kepada warga tetap berjalan sambil menunggu proses negosiasi ulang dengan pihak pengelola perumahan.

Sayangnya, tepat pada masa transisi tersebut, terjadi sebuah kesalahan administrasi.

Baru sekitar satu bulan pekerjaan berjalan, Perusahaan Menyala menerbitkan invoice kepada pihak perumahan seperti biasanya.

Namun pada saat yang sama, salah satu karyawan yang menjadi PIC proyek, sebut saja Kenny (bukan nama sebenarnya), sedang berada dalam masa pengunduran diri dan diketahui sedang menghadapi persoalan pribadi.

Dalam proses administrasi itulah terjadi kekeliruan.

Invoice yang dikirim kepada pihak perumahan menggunakan kop surat INGRAM, padahal seharusnya tetap menggunakan kop surat Perusahaan Menyala. Skema yang saya rancang sebenarnya tidak berubah: Perusahaan Menyala tetap menjadi pihak yang berkontrak dengan perumahan, kemudian membayarkan pekerjaan tersebut kepada INGRAM sebagai pelaksana operasional, sama seperti sebelumnya kepada PT Khazan.

Kesalahan tersebut murni merupakan kesalahan administratif.

Namun sebelum saya sempat menjelaskan duduk perkaranya, persoalan itu berkembang menjadi jauh lebih besar.

Pada waktu yang hampir bersamaan, saya sedang berada di luar negeri mengikuti dua program short course, masing-masing di Denmark dan Jepang.

Kedua program tersebut saya ikuti melalui beasiswa penuh.

Seluruh biaya perjalanan, akomodasi, dan kegiatan ditanggung oleh penyelenggara. Saya bahkan menerima uang saku (stipend) selama mengikuti program tersebut. Saya sama sekali tidak menggunakan dana Perusahaan Menyala untuk membiayai perjalanan tersebut.

Namun, di tengah situasi yang sudah memanas, muncul dugaan bahwa keberangkatan saya ke luar negeri dibiayai menggunakan uang perusahaan.

Saya bahkan mengetahui bahwa Fira sempat menghubungi suami saya dan mengatakan,

"Saya tahu gaji kamu berapa, dan nggak mungkin kamu bisa membiayai Fei ke luar negeri."

Kalimat itu membuat saya sedih.

Bukan karena persoalan uangnya.

Melainkan karena saya merasa seluruh perjuangan yang saya lakukan untuk mendapatkan kesempatan belajar melalui beasiswa seolah tidak berarti.

Sepulang dari luar negeri, hal pertama yang saya lakukan bukanlah beristirahat. Saya memilih menemui Fira. Kami mengadakan pertemuan di rumahnya bersama beberapa pengurus lainnya.

Saya datang dengan harapan dapat menjelaskan semuanya secara terbuka.

Namun, pertemuan itu tidak berjalan seperti yang saya bayangkan.

Selama pertemuan, saya lebih banyak menerima berbagai tuduhan dan penilaian terhadap diri saya. Saya dikatakan tidak kompeten, dianggap tidak mampu memimpin, dan mendengar banyak kalimat yang menyudutkan kapasitas maupun integritas saya.

Saat itu saya baru saja menyelesaikan perjalanan panjang dari luar negeri.

Secara fisik saya kelelahan.

Secara mental saya juga tidak memiliki cukup waktu untuk mempersiapkan diri menghadapi situasi tersebut.

Saya berusaha mendengarkan semuanya, tetapi terus terang, saya merasa seperti sedang diadili sebelum benar-benar diberi kesempatan menjelaskan.

Hari itu saya pulang dengan perasaan yang sangat hancur.

Bukan hanya karena tuduhan yang saya dengar, tetapi karena untuk pertama kalinya sejak membangun organisasi yang saya cintai ini, saya merasa kehilangan tempat untuk didengar.

Saya tidak tahu harus mulai menjelaskan dari mana.

Dan saya juga tidak tahu bahwa pertemuan itu hanyalah awal dari rangkaian peristiwa yang jauh lebih besar.

Life Begins at 40

Life Begins at 40, They Said.

Katanya, hidup dimulai di usia 40.

Semua bermula pada 4 Februari 2025, tepat di hari ulang tahun saya.

Hari itu, saya mendapat kesempatan untuk mendukung kegiatan Ibu-ibu Seru (organisasi sekumpulan istri menteri) dalam rangkaian peringatan Hari Peduli Sampah Nasional. Mereka diperkenalkan pada aktivitas pemberdayaan masyarakat dan pengelolaan sampah yang kami lakukan di daerah tersebut. Dalam kegiatan tersebut, saya diperkenalkan kepada seorang pejabat yang saat itu bahkan tidak langsungsaya ingat siapa. Saya juga tidak memiliki hubungan ataupun komunikasi sebelum dan sesudahnya dengan beliau, bahkan sampai hari ini.

Acara berlangsung dengan baik. Pada rangkaian acara ditayangkan sebuah video yang menampilkan aktivitas pengelolaan sampah dan pemberdayaan masyarakat yang saya beserta tim lakukan di lokasi tersebut.

Beberapa waktu setelah kegiatan selesai, tanpa sepengetahuan saya, pejabat tersebut mengunggah apresiasi terhadap saya dan kegiatan itu di media sosial pribadinya. Caption yang digunakan ternyata mengambil kutipan dari sebuah artikel di Google yang telah terbit pada tahun 2022.

Saya sendiri tidak mengikuti akun media sosial beliau, sehingga saya bahkan tidak mengetahui adanya unggahan tersebut. Namun, seseorang yang mengikuti akun tersebut mengambil tangkapan layar unggahan itu dan mengirimkannya kepada seseorang yang dalam tulisan ini saya sebut dengan nama Fira (bukan nama sebenarnya).

Tidak lama kemudian, saya menerima rekaman suara dari Fira. Dalam rekaman tersebut, ia menuduh saya masih memanfaatkan nama Perusahaan "Menyala" (bukan nama sebenarnya) untuk kepentingan pribadi. Ia juga menyampaikan bahwa ia akan melaporkan saya ke kepolisian dengan tuduhan bahwa saya masih menggunakan nama perusahaan tersebut

Tuduhan tersebut membuat saya terkejut. Karena sejak mengundurkan diri dari perusahaan tersebut pada 28 November 2024, saya sama sekali tidak lagi menggunakan nama maupun identitas lembaga tersebut dalam aktivitas profesional saya.



Saya memilih untuk tidak membalas rekaman suara tersebut karena merasa tidak melakukan hal yang dituduhkan.

Namun, persoalan tidak berhenti di situ.

Fira kemudian menghubungi suami saya dan kembali menyampaikan ancaman yang sama, yaitu akan melaporkan saya ke pihak kepolisian. Suami saya berusaha menjelaskan bahwa caption yang diunggah oleh pejabat tersebut bukanlah tulisan saya. Bahkan, beliau menunjukkan tangkapan layar artikel yang menjadi sumber caption tersebut, yang isi tulisannya sama persis dengan unggahan di media sosial pejabat tersebut.




Meski penjelasan tersebut telah diberikan, Fira tetap menyatakan tidak menerima penjelasan itu dan tetap menyampaikan niatnya untuk melaporkan saya.

Dalam salah satu rekaman suara yang saya simpan hingga hari ini, ia mengatakan:

"Sore, ini Fei masih pakai nama 'Perusahaan Menyala' sebagai CEO ya. Jadi saya mau lanjut nih secara hukum karena Fei sudah melanggar apa yang sudah dijanjikan. Fei nggak tobat nih, masih keliaran di KLHK."

Kalimat itu masih saya ingat dengan jelas.

Yang membuat saya bertanya-tanya hingga hari ini adalah bagian ketika ia mengatakan bahwa saya "masih keliaran di KLHK."

Saya tidak pernah benar-benar memahami maksud kalimat tersebut.

Apakah artinya saya tidak boleh lagi berhubungan dengan Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan? Apakah saya tidak boleh lagi berkarya di bidang pengelolaan sampah? Atau apakah setelah saya mengundurkan diri dari perusahaan tersebut, saya dianggap tidak lagi berhak berkontribusi di sektor yang telah saya tekuni selama bertahun-tahun?

Saya tidak pernah memperoleh jawaban atas pertanyaan-pertanyaan itu.

Setelah suami saya memberikan penjelasan secara lengkap, Fira tidak lagi membalas pesan tersebut.

Hal yang juga membuat saya heran adalah, saat itu saya sama sekali tidak menggunakan nama Perusahaan Menyala. Bahkan, akun resmi perusahaan tersebut sebelumnya telah mengumumkan kepada publik bahwa saya sudah tidak lagi bekerja di sana. Pengumuman itu disampaikan dengan narasi yang, menurut pandangan saya, cenderung menyudutkan posisi saya dan berpotensi membentuk opini negatif terhadap diri saya.


Bahkan sebelum peristiwa ini, pernah ada unggahan lain yang menampilkan foto saya dengan wajah yang dibuat buram (blur). Sayangnya, unggahan tersebut telah dihapus sebelum saya sempat menyimpan tangkapan layarnya.

Pada saat itu, saya masih berharap semua ini dapat diselesaikan melalui komunikasi yang baik.

Saya sama sekali tidak pernah membayangkan bahwa sebuah unggahan media sosial yang bahkan bukan saya buat akan menjadi titik awal dari rangkaian persoalan hukum yang panjang, melelahkan, dan pada akhirnya mengubah begitu banyak aspek dalam hidup saya.

Dan saya juga tidak pernah menyangka, bahwa usia 40, yang katanya adalah awal kehidupan baru, justru menjadi awal dari ujian terbesar yang pernah saya hadapi.

Senin, 08 September 2025

Sehari lagi - Alasan hidup

Pagi ini aku terbangun, (sayangnya).

Ya, sayang sekali, karena aku berharap tidak bangun pagi ini.

Sekuat tenaga aku berusaha membangunkan tubuhku, berat sekali.
Jangankan bangun, buka mata saja berat karena air mata terus mengalir.

Ya, aku masih harus hidup sehari lagi, hari ini.

Setelah emosi sedikit mereda, aku mulai bertanya pada diri sendiri: apa yang membuatku masih ingin hidup?

Pertanyaan itu terus bergema di dalam kepalaku, seperti bisikan yang terus mengulang tanpa henti.
Aku mencoba mencari jawabannya, namun yang kutemukan hanya hening.
Hening yang menyakitkan.
Hening yang membuatku sadar, mungkin sebenarnya aku tidak punya alasan yang cukup.

Dari sekian banyak orang-orang yang menyayangiku, bahkan tidak cukup untuk membuatku ingin hidup. 

Tapi, justru karena aku terlalu mencintai mereka. 

Aku, manusia gagal ini, takut lebih mengecewakan lagi. Aku bukan lagi seseorang yang mereka banggakan, aku manusia gagal.

Tapi... kenapa aku bertanya?

Setidaknya ada secuil bagian dari otakku yang ternyata masih berfungsi dan bisa mempertanyakan. 

Aku menatap langit-langit kamar  dengan cahaya pagi menembus tirai, dan menemukan jawaban.

Aku tidak butuh alasan apapun untuk tetap hidup. 

Aku hidup karena aku masih harus hidup, dan selama masih harus hidup maka aku harus menjalani sebaik-baiknya.

Mandi, menyeduh kopi, menikmati beberapa gorengan yang tersaji di meja, bekerja, menjalani dan menikmati setiap detik yang berlalu seolah ini hari terakhir ku didunia. 

Memberi senyum kepada setiap orang yang kutemui, memastikan meninggalkan kesan yang baik untuk orang-orang yang besok akan kutinggalkan. Walaupun aku tahu, sekejap saja aku akan dilupakan dari dunia ini. 

Akhirnya hari ini terlewati, sisa beberapa jam yang akan kuhabiskan dalam lelap.

Semoga besok perih ini hilang, bukankah itu berarti aku sudah tidak ada lagi?

Bagaimana kalo masih harus hidup.

Aku menarik napas panjang, berat, lalu bergumam lirih pada diriku sendiri:
"Baiklah. Satu hari lagi. Hanya satu hari lagi.

Sehari Lagi - Hancur

Aku terduduk, diam, memandangi hidup yang hancur di depan mataku.

Aku tidak bisa menyangkal lagi. Aku merasa gagal.

Gagal menjadi istri, gagal menjadi ibu, gagal menjadi anak, gagal menjadi manusia.


Segala hal yang kubangun, runtuh.

Semua usaha, semua lelah, semua pengorbanan, semuanya tidak ada artinya lagi.


Atas hal yang tidak kumengerti alasannya.


Perlahan aku mencoba memungut serpihan satu per satu,

tapi entah kenapa… berat sekali.


Bingung harus mulai dari mana.


Sekilas aku melihat sekeliling.

Beberapa tembok masih berdiri rapi, ada beberapa yang masih menemani.

Tapi melihat mereka terluka, membuatku semakin terluka.


Kata-kata itu terus terngiang.

"kamu gagal! kamu tidak kompeten!" dan berbagai kalimat mengintimidasi

Anehnya aku terhipnotis dan percaya.

Aku meng-amini betapa bodoh dan naifnya aku selama ini, mengerjakan segala sesuatunya dengan tulus, padahal ada tujuan lain yang tidak kumengerti yang kuabaikan, kukira kami sama-sama tulus.

Aku membiarkan kata-kata itu membentuk ulang diriku.

Bukan jadi versi yang lebih kuat, tapi lebih hancur.

Aku mengamini aku bodoh, aku gagal dan aku hancur.


Menangis pun aku tak pantas.

Katanya “drama”, itu “pura-pura” agar dapat simpati, atau malah dikira “kesetanan.”

Aku, yang bahkan selalu menyembunyikan perasaan dan terpaksa membiarkan air mata mengalir karena tidak mampu lagi membendungnya. Aku mengijinkan diri ini terlihat rapuh.

Tidak ada lagi yang dipertahankan didunia ini, tidak ingin apapun.

Bahkan aku tidak lagi dapat membedakan mana yang nyata dan mana yang fana.


Saat ini, semua yang kulakukan tampak salah.

Rasanya, terlahir ke dunia pun yang sudah dan pernah ku perbuat.

Salah.


Dan luka itu terlalu dalam.


Batin tidak lagi sanggup melawan.

Aku hanya mampu bertahan, semampuku.

Berdiri sebisanya, walau gemetar.

Bukan untuk menunjukan diri pada siapapun, kecuali pada diri sendiri.

Menyadarkan, bahwa aku masih hidup.

Walau dalam hati… aku merasa mati.


Bernafas saja walau sambil menangis, yang penting bernafas.

Mari kita hidup sehari ini saja.

:)


Minggu, 22 Oktober 2023

Lelahalu

Lelah berpura-pura mencari sesuatu yang tahu tidak mungkin ditemukan.
Orang pikir aku bahagia dengan semua yang ada, padahal orang yang peduli saja tak ada.
Terbangun pukul 2 setiap hari, Kalo beruntung ya bisa tidur Lagi. Biasanya, terus overthinking sampai pagi.
Membayangkan sebuah pelukan dan kalimat "tenang sayang, kamu ga sendiri." Nyatanya kesadaran ini tidak bisa dipermainkan oleh halusinasi.

Bagaimana bisa memperbaiki sesuatu yang memang sudah hancur? Bisa katanya. Tidak ada yang mustahil bagi Tuhan.
Bisa sih memang, seandainya ada kesadaran untuk bertanggungjawab.

Pulang larut dengan alasan untuk bekerja, tapi hasilnya entah kemana.
Muka muram, jawaban ketus, dan semua hal yang coba kusyukuri pada akhirnya hanya bisa kusesali.

Aku yang salah?
Iya. Harusnya bisa lebih sabar
Memaklumi semua yang dia lakukan.

Ga apa2, lihat saja perempuan2 itu.
Ga apa2, hubungi saja mereka 
Ga apa2, temui saja
Bayar saja.
Tidak perlu peduli dirumah, semua kuurus dengan baik.
Ga apa2, ga perlu pedulikan tentang Citra diriku yang hancur.
Ga apa2, ga perlu pikirkan perasaanku.
Ga apa2, harusnya aku selalu berhasil untuk memastikan diri ini semua ga apa2.
Bukannya mencari validasi bahwa masih ada hal baik dalam diri saya, dan mencari alasan bahwa saya juga berhak dicintai.

Apa Iya saya berhak dicintai?
Pertanyaan ini aja sulit untuk kujawab.
Selalu berjuang dengan trust issue yang membuat hidup semakin runyam.

Belajar, berproses.
Sampai titik ini.

Berdamai dengan keadaan.
Walau sakitnya kadang tak tertahankan.

Berharap datang sebuah harapan,
Tapi lagi-lagi dikecewakan.
Masih mending cuma kecewa, lebih banyak Ancaman, hinaan, dan semua yang mendatangkan penyesalan.

Entah dimana bisa menemukan kedamaian.
Apakah mampu diri ini bertahan sendiri sampai akhirnya?
Berpura-pura kuat dan bahagia padahal nyatanya serapuh itu.

Aku ingin hidup lebih lama, dengan bahagia.
Andaikan boleh aku memohon.
Ijinkan aku untuk bertemu seseorang yang bisa menyayangi aku seperti ayahku.
Seseorang yang membuat aku tidak takut apapun.
Seseorang yang menguatkan kakiku untuk melangkah.
Seseorang yang memelukku dan mencium keningku setiap pagi
Seseorang yang mendoakanku dan membawaku pada kebaikan
Seseorang yang menjadikan aku ratu dihidupnya
Seseorang yang sabar membimbingku untuk menjadi manusia yang lebih baik
Seseorang yang mau mendengarkan mimpiķu.

Seseorang yang mau berjuang untuk mewujudkan mimpi bersama.

Seseorang yang selalu menjawab pertanyaanku
Seseorang yang selalu aku tunggu ceritanya
Seseorang yang dapat selalu aku banggakan.
Seseorang yang selalu cukup dengan diriku.

Seseorang yang akan sering bertanya
Sayang, kamu lagi apa?
Sayang, kamu baik-baik aja?
Sayang, kerjaan gimana?
Sayang, nonton yuk
Sayang, thankyou ya
Sayang, cape ya? Sini peluk.
Sayang, lari bareng yuk
Sayang..... Iya sayang semuanya cuma halu
🤣🤣🤣


Sabtu, 09 September 2023

Nasehat aja

Nasehat aja, karena dulu ga ada yang ngajarin saya ttg hal ini.

Hati-hati pilih pasangan.
Lihat bibit bebet bobot.

Jangan pernah berharap bisa mengubah seseorang.

- orang yang lahir dan dibesarkan oleh ayah yg tidak bertanggungjawab cenderung akan menjadi orang yang tidak bertanggungjawab juga.

- orang yang terbiasa ketus dan menjawab dengan tidak Hormat akan cenderung memperlakukan pasangan dengan ketus dan tidak hormat juga, walaupun ditanya baik-baik dia akan terbiasa ketus dan menjawab dengan nada marah. Karena sudah terbiasa begitu.

- orang yang terbiasa dengan gaya hidup tidak sehat, makan makanan tidak sehat, tidak pernah berolahraga dsb. Tidak akan mudah berubah begitu saja. Perlu suatu kejadian besar yang mengubah hidupnya. Kejadian besar tersebut tidak mungkin keadaan yang menyenangkan, pasti akan sangat menyakitkan. Siapkah mendampingi dalam keadaan menyakitkan tsb?

- orang yang tidak pernah punya mimpi akan selalu hanya hidup hari ini. Jangan harap bisa berbagi harapan dan cita-cita dengannya. Jangan harap bisa berbagi beban tentang masa depan anak, apalagi Kalo soal materi. Jangan mimpi untuk membangun rumah masa depan. Asalkan bisa tidur aja cukup, dimana aja bisa.
Makanya cari perempuan yang bisa diajak susah.
Hati-hati sama orang kaya gini.
Sederhana dan males itu tipis bedanya.

Orang bisa terlihat Rohani dan seolah dekat dengan Tuhan, semua kepura-puraan tidak pernah bisa bertahan lama.
Dan siapkan kita menerima semua kemunafikan?

Sekali lagi.
Hati-hati memilih pasangan hidup.
Seumur hidup itu terlalu lama.
Ambil keputusan saat kita menyadarinya.
Semakin cepat sadar tentu resiko semakin dapat diminimalisir.
Semakin lama semakin berat.
Dan akan semakin berat dengan beban dan nilai bernama adat, budaya apalagi agama.





Minggu, 12 Februari 2023

Sampai jadi debu

Pemandangan yang paling bikin saya terharu dan tersenyum adalah melihat sepasang kakek dan nenek yang masih bersama, dalam segala kesederhanaan karena mereka sudah tau apa yang essensi dalem hidup. 
saya pikir kita akan bahagia, dan kelak saya jadi nenek itu dan kamu kakeknya. Punya anak dan cucu yang banyak, kita menghabiskan masa tua dengan keliling dunia dan tinggal di pegunungan. 
Tertawa menghabiskan aktu seperti yang selama ini kita lakukan. 
kalo selama ini kita selalu kekurangan waktu, nanti kita akan punya waktu yang banyak untuk bersama. 
Setiap hari kamu akan jadi orang pertama yang aku lihat dan orang terakhir yang aku peluk sebelum kita sama-sama tidur. 
Setiap pagi kita akan duduk berhadapan di meja makan, saling menatap dan mensyukuri Setiap Hari yang berlalu.
Di sore hari, kita akan memandangi langit sore sambil tanganmu dan tanganku tak lepas tergenggam.
Aku ingin kamu jadi orang yang memelukku terakhir bahkan nanti sebelum aku pulang. 
Tapi entahlah kamu dimana sekarang. 
Aku yang diselimuti dendam tak berkesudahan, benci yang tak Kunjung surut dan pada akhirnya aku yang selalu salah sampai akhirnya kamu pergi. 
Kali ini aku tidak akan memintamu kembali. Aku tahu sudah tidak mungkin terjadi. 
Aku memilih mengubur semua masa dan harapan. 
Aku hancur dan mati. 
iya biarlah hancur dan mati. Seperti katamu selalu, ini salahku.
Iya ini salahku, dan selalu salahku. 
semoga suatu hari aku bisa hidup kembali.
Berbahagialah kamu sekarang dan nanti dan selamanya.
Aku akan selalu mengingatmu dan kenangan tentang kita, sebagai peringatan untuk selalu bersyukur dan selalu merasa bodoh. Bersyukur betapa baiknya Tuhan telah menghadirkanmu dalam hidupku dan betapa bodohnya aku sampai kehilangan kamu.
Suatu hari nanti, aku akan melihat gambarmu dan dia, mengamini mimpi kita.
Tidak apa-apa, setidaknya mimpi kita jadi nyata walau pemerannya bukan aku. 

Badai Tuan telah berlaluSalahkah ku menuntut mesra?Tiap pagi menjelangKau di sampingkuKu aman ada bersamamu
SelamanyaSampai kita tuaSampai jadi debuKu di liang yang satuKu di sebelahmu
Badai Puan telah berlaluSalahkah ku menuntut mesra?Tiap taufan menyerangKau di sampingkuKau aman ada bersamaku
SelamanyaSampai kita tuaSampai jadi debuKu di liang yang satuKu di sebelahmu


Senin, 17 Oktober 2022

Pinter tapi Bego. Bego tapi Pinter

Udah oktober aja ya.
Cicilan mobil udah beres, nyicil apa lagi ya? Wkwkwk.
Waktu berjalan cepet banget. Ga berasa.
Ga berasa makin lama makin pinter. Anehnya makin pinter kita suka ngerasa makin bodo.
Ngerti ga maksudnya?
Makin banyak yang kita mengerti, makin kita ngerasa ga ngerti apa-apa.
Hidup udah bukan lagi tentang ngasih makan ego. Memahami kalo perasaan adalah sesuatu yang mudah berubah.
Yang saya syukuri, semua perhelatan saya lalui dengan baik, walau sempat babak belur. Sayangnya ini bukan tentang menang atau kalah. Karena menang jadi arang, kalah jadi abu. Podo bae.
Tapi setidaknya udah pernah berjuang, dan berhasil sampai di titik ini.
Sudah tidak rapuh. Kuat. Hebat.
Sayangnya semakin tinggi, semakin sepi.
Beda kan klo di jalan raya, banyak motor, mobil, bus, truk.
Diatas? Pesawat papasan pun jarang.
Possibility untuk ketemu pesawat lain ya kecil. Bukan ga mungkin.
Ini bukan tentang tingkat ekonomi ya. Kalo itu mah masih dibawah.
Tapi tentang Value.
Karena pengalamannya udah banyak. 
Dari yang sakit sampai sangat sakit.
Bukan berarti ga pernah bahagia.
Justru itu saja yang diingat. Setidaknya biar tetap merasa pintar walau bego. 

Sabtu, 15 Oktober 2022

Berita Ayu atau Lesty?

Weekend bawaannya pengen kerja tapi kok ga konsen. Jadinya nontonin video youtubenya artis-artis ajalah.

Yang lagi rame ya ttg lesty, tapi udah ga rame sejak si lesti nyabut laporan. Netizen kecewa. Dasar netijen emang senengnya keributan hahaha.

Satu lagi yang lagi rame, berita tentang bu Ayu anak tiga.

Hebat sih dia berikut lakinya juga hebat, dan si denise nya juga hebat. Masing-masing hebat dengan perannya masing2.
Ga pake gontok2an. 

Si Denise dengan caranya sendiri berani speakup ya bagus. Biar si R cadel nya itu kapok dan mikir sejahat apa yang dia udah lakuin.

Kalo bu Ayu ya ga usah ditanya, dia hebat. Orang dia cantik, mandiri, pinter, kaya, bego aja itu laki ya. Respon bu Ayu ini yang hebat, buat dia yang terpenting anak-anak. Dia bahagia sama anak-anak. 

Dan si R cadel ini juga ya bagus. Dia memilih diam dan berubah jadi family man. Semoga dia menyadari apa yang dia lakukan salah.
Hebat sih 3 3 nya.

Semua mereka adalah orang-orang yang tersakiti. Ulah 1 orang, si R cadel ini.
Kalo si denise ga speak up, ga akan bakal nyesel tuh orang.

Walaupun, gw kalo diposisi Denise, ga akan mungkin lakuin itu. Mau tobat mah ya tobat aja. Terbuka adalah awal pemulihan katanya, iya. Ga ada satu hal pun yang bs nebus kesalahan kita. Yang terpenting kan kedepannya lo lakuin yang bener Nis.
Pun, kalo gw ada di posisi Ayu, belom tentu juga gw akan bersikap seperti itu. Eh tapi lebih mungkin sih. Apalagi banyak duit ya kan. Yang penting sama anak-anak.
Duh yu yu. Hebat lah kamu. Bisa bertahan padahal kamu pasti lebih tau duluan daripada  netijen kelakuan si laki kaya gimana.

Sepertinya di awal semua bagus loh. Ayu diam, Denise Diam dan si Laki keenakan.  Merasa si paling Tuhan yang harus diturutin.
Harus ada yang mutus rantainya memang.
Tinggal cara mutusnya aja gimana.
Denise terlalu ekstreem dan ga bijak. Tp ampuh. Si laki harus rasain sakit hatinya supaya ga balik lagi. Nah nyakitin si laki kan ga dengan cara gitu Nis. Masih banyak cara lain selama logika lo mau dipake.

Nonton deh youtube nya si Denise dan apa yang dilakukan si laki ke dia. Bener-bener deh ente kadang-kadang. Tapi asli dia tuh jujur loh. Berani jujur itu kan ga gampang. Gw yakin cerita dia ga dibuat-buat dan gw yakin dia nyimpen luka yang sangat dalam.

Yang pasti sejak ada beberapa nama Tika, Avi, dll saya jadi ngerti modus operandi nya kaya gimana. Sama persis. Semua orang jadi goblok atas nama cinta. Yang tersakiti ya semuanya.

Dah lah pada bego semua kalo udah urusan libido. Makanya kata Djenar Maesa Ayu : Jangan main-main (dengan kelaminmu).

Kamis, 13 Oktober 2022

Kangen tapi mahal.

"Kangen, tapi kalo inget dia jahat ngga jadi kangennya. Tapi sepi juga sendirian. Ngga deng, Enak kok, hidup lebih tenang. Ga ada yang neror dan marah-marah karena ga dikabarin. Waktu lebih efektif, banyak waktu yang bisa di pakai buat produktif dibanding dengerin orang ngamuk-ngamuk. Tapi kehilangan temen ngobrol juga." Sambil menatap kosong ke arah jendela, Mya berbicara pada dirinya sendiri. Memastikan  hidup baik-baik saja walaupun harus berjalan sendiri. 

Ga semua orang beruntung menemukan kekasih sejatinya. Ga tau juga sih apakah ada yang namanya kekasih sejati. Ada mungkin. Yang pasti sejauh ini Mya selalu gagal dan ga yakin bisa berhasil dengan sebuah hubungan. entah apa yang salah, memang tidak akan pernah ada yang sempurna, pun Mya bukanlah manusia sempurna. 

"Siapa juga yang nyari yang sempurna? emang ga dikasih jodo aja kali sama Tuhan." pikir Mya lagi.

ah hujan emang suka bikin overthinking. 

Tapi setidaknya hidup yang Mya jalani sekarang sudah cukup untuk disyukuri. 

Kehilangan besar yang dia alami rupanya telah banyak mengubah hidupnya.

Perjalanan panjang dengan semua persimpangannya membuat Mya lebih memahami alur kehidupan. 

Ibaratnya main game, saat kita  melewati suatu jalan, menghadapi tantangan dan bikin game over, saat mengulangi kita udah tau gimana supaya jangan gagal lagi saat melalui jalan itu dengan tantangannya. 

Setiap episode kehidupan adalah pelajaran. 

Kegagalan bukanlah hal yang harus disesali, tapi pembelajaran untuk tidak diulangi. 

Perjalanan panjang ini membuat Mya menjadi pribadi yang lebih tenang, lebih bersyukur, lebih enjoy.

Hidup ini berharga, nafas adalah kesempatan, bodoh kan kalo ada masalah trus membuat diri kita ingin mengakhiri hidup. Bodoh. Bodoh banget.

Merasa ga berharga lalu pengen mati? TOLOL. 

Yang harus dilakukan adalah : tinggalkan orang yang membuat kamu terasa tidak berharga. Orang yang merendahkan kamu, Orang yang tidak menjaga dan menghargai kamu, tinggalkan. 

Karena sesungguhnya kamu sangat berharga. 

Semakin kamu menjadi lebih baik, hargamu semakin mahal. 

Sesuatu yang berharga, tidak akan diperlakukan dengan semena-mena. Jadi kalo ada yang memperlakukanmu dengan tidak baik, dia bukan orang yang tepat, dia tidak tahu betapa mahalnya kamu. 

Ngerti? 

Sesuatu yang paling berharga itu kadang dipisahkan, sendiri. Karena ga sembarang orang bisa melihat dan menyentuhnya, 

Jadi ya wajar kalo sepi. 

Nanti kalo ada orang yang tepat, ga akan sepi lagi. 

Tapi ga mudah tentunya menemukan yang tepat. Butuh waktu lama, dan belum tentu Ketemu.

Nikmatin aja.

Kangen? ngga jadi deh, gue mahal. 

Mya membereskan laptop dan semua Barang diatas Meja. Hujan sudah berhenti. 

Pulang ah.





Selasa, 05 Juli 2022

Love is never Fail (katanya)

Kalimat yang sering saya baca (dulu) di undangan Kawinan.

Iya, dulu, jaman sering nerima undangan kawin. Sekarang jarang, mungkin arena pandemi atau usianya udah lewat, yang sudah bukan lagi masa melangsungkan pernikahan. :)

Tapi emang iya sih, selama masih ada cinta, masalah segede apapun harusnya masih bisa diselesaikan. Beda cerita kalo udah ga ada cinta, masalah pun bisa jadi hilang dengan sendirinya. Maksudnya, ga ada yang perlu diselesaikan lagi, buat apa, sudah ga ada masalah, sudah ga ada yang disakitin, dan sudah ga ada cinta. Jadi buat apa? 

Ada suatu masa dimana saya mencintai seseorang, sangat mencintai. Membuat saya sangat demanding, dan sering berantem. Banyak masalah besar yang membuat saya tidak jarang menangis, sampai masalah yang sangat besar datang, saya tidak lagi menangis. Lukanya terlalu parah sampái menangis pun rasanya tidak berguna. Saya memilih untuk pergi, mengabaikan perasaan, melupakan tentang rasa cinta yang pernah ada. Pergi begitu lama dan tidak pernah mencoba untuk kembali. 

Suatu hari kami dipertemukan oleh keadaan, dan menyadari semua sudah berubah. Rasa cinta itu sudah hilang, seiring luka yang sudah sembuh. Hanya saja menyisakan trauma. Bayangkan saja seperti mengalami sebuah kecelakaan besar, trauma adalah suatu hal yang pasti terjadi. Saat mendengar, dia juga sudah tidak mencintai saya, rasanya ya biasa saja. Waktu memang bisa menguaba segalanya. Karena udah ga cinta, kami tidak berharap, tidak demanding, tidak menuntut dan tidak berantem. Sama seperti dulu tidak mengenal atau mungkin hanya sebatas teman. Sudah tidak ada lagi kebencian, karena memang sudah tidak melibatkan perasaan. 

Lucu ya hati manusia, bisa begitu mudahnya dibolak-balik. 

Tapi dari situ saya belajar untuk tidak percaya pada hati manusia, termasuk pada perasaan sendiri. Saya mengajarkan diri saya untuk tidak terjebak pada perasaan, apapun bentuknya. Marahlah secukupnya, senanglah secukupnya, sedihlah secukupnya, sukalah secukupnya, nikmati semua perasaan secukupnya, karena ga ada yang abadi. Segala sesuatu yang berhubungan dengan perasaan itu bisa berubah.

Semua yang berlebihan itu tidak baik bukan? 

Itu sebabnya saya ga percaya sama istilah Healing healing.

Mau bersenang-senang? Tetap saja ga akan membuatmu bahagia, selama peraşaan masih menjadi pegangan dalam menjaqlani kehidupan. Akan banyak hal yang membuat kita kecewa, lantas mau healing berapa kali sebulan?

Yang harus dimanage adalah perasaan dan ekspektasi. 

Bukan hal mudah untuk saya yang sangat intuitive dan selalu all out dalam segala sesuatu. Nyatanya hidup saya berjalan lebih tenang saat peraşaan saya bukan hal terpenting yang harus saya utamakan. Bukan juga perasaan orang lain. Tidak. Saya tidak akan pernah mengusahakan sesuatu hanya untuk memenuhi kebutuhan perasaan orang lain. Karena yang terpenting Adalah menjalankan hidup sebaik-baiknya.

Ada waktunya tertawa, ada waktunya menangis. Nikmati saja semuanya. Jalani sebaik-baiknya dan syukuri sebanyak-banyaknya. Hidup tanpa trauma, tanpa kepahitan, tanpa dendam, dan tanpa ekspektasi (kepada orang lain). Ga perlu berharap orang lain untuk membuat kita bahagia. Karena bahagia adalah keputusan kita. Jangan pernah kasih remote kebahagiaan kita pada orang lain, siapapun itu. Kita berhak bahagia, tanpa tapi apapun. 

Allah maha pembolak balık hati, awalnya saya ga ngerti tapi akhirnya saya memahami. ada orang yang bisa tiba-tiba jatuh cinta dan melakukan hal-hal bodoh seolah "kamu segalanya". Membuat janji A B C D, hahaha saya tidak akan pernah percaya janji orang yang Sedang jatuh cinta. Come on. Jangan pernah mengambil keputusan saat sedang emosi. Termasuk sedang jatuh cinta. Kamu akan menjadi sangat bodoh. Termasuk orang yang "dijanjiin" sama orang yang Sedang jatuh cinta, kamu bodoh kalo kamu percaya. Semuanya omong kosong. Ingat itu Hanya perasaan dan perasaan itu mudah berubah.

Ini pemikiran saya hari ini, 5 Juli 2022, entah benar entah tidak, dan tentunya besok bisa berubah juga. Setidaknya untuk saat ini, sangat pembantu saya untuk menjalani hidup dengan lebih enjoy. Hidup saya tetap berjalan normal sekalipun ada orang yang menyakiti, dan sekalipun dikecewakan. Bersedih secukupnya, ingat untuk tidak percaya pada perasaan, seketika dia akan mudah berubah. Saya mengistilahkannya "rekayasa hati" hahaha kaya Vicky Prasetyo ya bahasanya?

Gimana caranya? Saat sedih, ingat hal-hal baik yang pernah dan masih ada dihidup kita. Belajar bersyukur bahkan untuk hal-hal kecil. Akan selalu ada hal baik untuk disyukuri. Saat senang, nikmatilah, namun jangan lupa untuk tidak lupa diri, karena senang itu sementara. Tidak ada pesta yang tidak usai. Jangan berlebihan menanggapi sesuatu, jangan berlebihan memuji sesuatu, jangan berlebihan mencintai sesuatu. Biarkan secukupnya saja, sebatas rasa kecewa yang masih bisa kita hadapi. Ya, karena bisa jadi, orang yang hari ini membahagiakanmu, besok akan menjadi orang yang mengecewakanmu. semakin besar rasa cinta, semakin besar juga rasa kecewanya.

Entahlah ini teori dari mana, dan apakah ini benar? Sekali lagi saya bilang, saya ga tau. Ini hanya pemikiran saya dan pola yang saya terapkan dalam diri saya. Mau coba? silahkan. Tapi resiko ditanggung sendiri ya :)




Minggu, 03 Juli 2022

Menikmati Proses

Kadang tidak perlu terlalu memaksakan harus mencapai tujuan sesuai dengan waktu yang kita rencanakan. Akhir-akhir ini saya banyak belajar tentang proses. Selama ini saya selalu fokus pada tujuan dan hasil, nyatanya Kadang proses Adalah bagian yang terpenting.

Saat melihat anak saya yang hampir failed berjuang agar tidak failed, saya sampái pada titik "apapun hasilnya, saya menghargai usahanya." dan kalimat itu pula yang saya sampaikan di pertemuan dengan guru Sebelum masa Penilaian Akhir Tahun. Bagaimana tidak, dari susunan nilai dan target yang harus dikejar, mustahil mendapat nilai 100 atau bahkan harus 120 untuk mencapai nilai minimum yang disyaratkan sekolah, sedangkan nilai sempurna saja 100. Akhirnya ya saya hanya bisa menghargai Usaha yang dilakukan. Setiap orang berhak untuk mendapatkan kesempatan kedua, ketiga, keempat, dan seterusnya.

Bukan berarti jd lemah dan tidak se-ambisius itu lagi, tapi menghargai proses Adalah suatu hal yang tidak kalah penting dan tujuan yang ingin dicapai. 

Bayangkan saja, tiba-tiba saja saya diperhadapkan pada kondisi "tidak termaafkan" Melakukan sebuah kesalahan, dan DONE. Ga enak banget rasanya. Tapi bagaimanapun, saya menjadikannya sebuah proses belajar untuk berhati-hati dalam bertindak. Belajar tidak semua yang saya lakukan benar dan dapat diterima. Belajar untuk memahami orang lain, bukan hanya selalu ingin dipahami. Tat Tuan Asi : Kamu adalah aku, aku adalah kamu. Perlakukan orang lain sebagaimana kamu ingin diperlakukan. 

Menghargai proses membuat saya lebih bijaksana dan menomati perjalanan. Kalo sebelumnya saya bisa stress saat target yang saya pikirkan tidak tercapai, sekarang saya lebih bisa melihat segala sisi baiknya. Saya teringat beberapa tahun lalu waktu sering naik kereta api Bandung Jakarta. Sekali waktu, keretanya mogok. Cukup lama. Karena ada kereta lain yang tertahan di statiun berikutnya. Lumayan kesal sih tapi toh ga ada pilihan lain Karena ga mungkin turun dan ganti naik Gojek kan? 

Setelah sekian lama, saya berjalan ke gerbang restorasi. lapar dan haus. Saat duduk di kursi restorasi yang bersebrangan dengan positie kursi saya sebelumnya, disitu malah saya melihat pemandangan yang begitu indah. Hamparan sawah menghijau dengan latar belakang gunung, cantik sekali dan begitu tenang dan menenangkan saya yang Sedang ga tenang Karena ingin segera sampai. 

Dalam perjalanan, tidak jarang kita menemukan hambatan yang ga bisa kita kontrol. Pilihannya ya berdamai dengan keadaan dan menikmati perjalanan. Karena mengeluh bukanlah pilihan dan kadang kita tidak punya pilihan.

Lucu, semesta mempertemukan kita dengan mentor-mentor terbaik. Dari si emosional dan egois, Masuk kedalam kelas Sabar dan belajar memahami orang lain. Waktu di fase beginner, duh inget banget proses 'ngamuk-ngamuk", ngomong kasar, ngancem, nangis-nangis nyusahin diri sendiri, dah lah. Tapi fase ini juga yang membuat saya mengenal diri sendiri dan menyadari luka yang saya simpan dalam hati. 

Saat saya menikmati proses belajar, saya mulai memahami diri sendiri. Kenapa saya A, kenapa saya B, dan apa yang saya inginkan. Belajar memahami orang lain itu termasuk belajar menyampaikan apa yang saya inginkan dan apa yang saya pikirkan. 

Saya benar-benar bersyukur untuk orang-orang yang ada dan pernah ada dalam hidup saya. Mereka benar-benar mentor terbaik. Bahkan yang tidak baik pun menjadi contoh terbaik untuk tidak melakukan yang dia lakukan. Hahaha. Saya belajar arti ketulusan, keberanian, kekuatan, kesabaran, dan kejujuran dari orang-orang yang terbaik.

Saya menyadari waktu terus berjalan, usia terus bertambah, waktu didunia semakin berkurang. Lantas hidup seperti apa yang akan saya jalankan? Karena saya ga pernah tau akhirnya seperti apa, jadi kenapa tidak setidaknya saya nikmati perjalanannya?


Minggu, 03 Oktober 2021

Finally

Finally.....

Akhirnya....

Kalo kata isyana di film milly mamet - si anjing mati. Coba cari deh scene nya.

Satu per satu beres.
Ibarat mau lari kenceng, beban-beban ga perlu emang harus segera diberesin.
Kehilangan tentu, tapi kan kita tau apa yang sedang kita kejar. Ntar juga dapet yang lebih  baik.
Ibaratnya nih mau marathon, masa pengen bawa tas ransel, celana jeans, jaket, powerbank, dll. Ga mungkin kan? Kalo bisa seminimal mungkin bawaannya.
Ato misal mau naik gunung, sedibantu-dibantunya sama porter pun, tetep yg namanya "beban yg ga perlu" itu jangan dibawa.

Salah satu contoh beban yang ga perlu : janji orang yg TIDAK ditepati. Ga usah dipikirin. Ga perlu. Anggep aja ga ada dan ga pernah janji.
Kalopun ternyata kita tau dia janji ke kita X dan ternyata malah memenuhi janjinya buat si A. Ya udah aja, anggep aja ga ada dan ga pernah janji.

Salah dua beban yang ga perlu : kok si X segitunya mau berusaha buat si A tp ke kita ngga. Ya udah biarin aja, berarti dia ga anggep kita penting. Kalo ternyata kita orang Penzing, dia yang akan nyesel kok.

Beban-beban ga perlu kaya gitu, lepasin.

Enjoy aja sama diri sendiri.
Syukurin yg kita punya, ga usah sirik sama orang atas apa yang ngga kita punya.
Tau batesan atas segala sesuatu, jangan berharap sesuatu yang bukan untuk diharapkan.

Sakit hati itu adalah pilihan dan keputusan kita. Segimanapun usaha orang buat nyakitin, kalo kita aman dengan diri kita sendiri, ga akan sedikitpun kita merasa tersakiti.

Tapiiiii...
Kita juga ga bodoh.
Kalo terang-terangan orang berstrategi untuk nyakitin kita, kita harus bales dengan strategi juga.
Sebisa mungkin hindari.
Daripada nyerang balik, usaha yang pertama adalah hindari pukulan lawan. (Kaya belajar silat wkwkwk) kalo bisa menghindar, dan biar dia kena pukulannya sendiri.

Kalo tetep nyerang, ya serang balik. Bales aja. Dia harus tau juga bahwa kita tidak selemah yang dia pikirin. Wkwkwk teori darimana ini.
Menyerang balik itu menurutku boleh, bukan karena kita jahat, tp untuk menunjukkan kita ga selemah yang dia pikir.
Tapi ini adalah opsi terakhir. Sebisa mungkin biar dia kemakan omongannya sendiri.


Rabu, 18 Agustus 2021

Harus memilih

Saat semua pintu terbuka, ga semuanya harus kita masukin. Ada saatnya kita harus memilih dan menentukan mana yang terbaik.

Ujian saat semua kesempatan dibuka, kadang lebih sulit daripada saat semua terlihat tertutup. Kita harus berhati-hati dan bijaksana dalam menentukan.
Bagaimanapun kita HARUS MEMILIH.

Saat ada orang yg dengan sengaja menyakiti hati kita, selalu ada pilihan. Karena suasana hati, kita yang menentukan. Contohnya nih liat foto mantan dengan pacar barunya, ga usah sakit hati. Bikin foto sendiri aja dengan apa yg membuat kita bahagia. Toh udah jadi mantan, lupain aja dan jangan liat-liat lagi fotonya 😬

Intinya, apapun, siapapun, bagaimanapun ga ada seorangpun yang bisa ngerusak kondisi hati kita selain kita sendiri. Mau sakit hati atau tidak itu pilihan.
Bagaimanapun KITA HARUS MEMILIH.

Dulu saya orang yang rapuh banget. Saat ada yang nyakitin saya, saya akan langsung mengasihani diri sendiri, merasa paling sakit hati, terasa paling menderita. Saya bisa nangis jerit-jerit dan nyakitin diri sendiri. 
Sekarang? Biasa aja. Ada terbersit kecewa, tapi tidak membiarkan diri untuk tenggelam dalam rasa itu. Belajar mensyukuri semua hal baik dalam hidup saya, yup, karena saya yang pegang remote control-nya. 

Since kita punya kebebasan untuk memilih, moment ini saya pakai untuk memilih menyempurnakan dan membahagiakan diri.

Saya cukup puas dengan progres sejauh ini. Semakin sehat, semakin bijaksana, semakin luas wawasan, semakin bahagia, semakin cerah masa depan. Semakin Bersinar. (Amin paling serius  🙏) Hehehehehe...

Dicambuk itu sakit, tapi harusnya membuat kita berlari lebih kencang, berusaha lebih kuat dan berlari lebih jauh. ehhh.... Tapi kita bukan kuda,  seharusnya kita ga perlu disakitin untuk menunjukkan kemampuan terbaik kita kan?

Ada yang salah ternyata saat saya berpikir bahwa balas dendam terbaik Adalah menunjukkan diri kita menjadi yang lebih baik. Karena menjadi lebih baik Adalah untuk diri kita sendiri bukan untuk membuktikan kepada siapapun bahwa kita lebih baik.

Semakin dewasa (tua sia sebenernya, lol), banyak prinsip-prinsip kehidupan yang salah dan harus dibenahin. Buat apa? Buat lebih bahagia. Karena kita hidup bukan untuk orang lain, tapi untuk melakukan yang terbaik selama kita masih Punya kesempatan di Dunia. :) (serius amat yak... hehe)

So kamu udah tau dong pilihan saya? I choose to be the best version of me and be the happiest of me.

Sabtu, 14 Agustus 2021

Menunggu pelangi

Katanya ada pelangi sehabis hujan.
Jadi saya sabar aja menunggu.
Sekarang hujannya masih lebat.
Ya udah diem aja dulu, berteduh.
Percuma diseselin juga, ga bikin ujannya berhenti.
Anginnya bikin dingin, badainya bikin kelam.
Ya udah diem aja dulu, bertahan.
Percuma dilawan juga, ga bikin ujannya reda.
Sekarang belajar tenang aja.
Cari tempat yang nyaman untuk menunggu.
Cari tempat yang aman untuk berlindung.
Cari tempat yang hangat untuk bernaung.
Kalo ga ada?
Ya udah diem aja dulu, berdoa.
Percuma dipaksakan juga, ga bikin kita jadi bahagia.
Percaya aja, setelah malam, matahari akan terbit lagi membawa harapan.
Tidak ada yang selamanya.
Badai pasti berlalu.

-semangat yuk!