Minggu, 14 Agustus 2016

Fiction : "BULAN" Part 4

Entah sampai mana cerita terakhir kemarin, yang jelas hampir saja aku mengakhiri cerita tentang Bulan ini. Aku pikir dia pergi meninggalkanku ditempat asing ini.

Malam itu, aku berjanji menemaninya melihat bentuk rasi bintang. Katanya untuk melihat arah kemana kami harus pergi. Sayangnya malam itu aku tertidur dan saat pagi aku terbangun dia sudah tidak ada disini. Berkali-kali aku panggil namanya namun yang menyahut hanyalah gema suaraku sendiri dari balik pepohonan. "Bulaaaannnnn.... kalau kamu memang berniat untuk meninggalkanku, kenapa kamu harus membawa aku kesini dan tersesat ditempat yang tidak aku mengerti?" bersitku dalam hati.

Biasanya ada yang menyapaku setiap pagi. Dengan senyumannya yang aneh dan matanya yang seperti orang yang tidak tidur seminggu. Ah kenapa tiba-tiba aku rindu sama kamu anak aneh.... Baru beberapa minggu kamu datang dalam hidupku, tapi rasanya seperti telah terbiasa dengan kamu sepanjang hidupku. Hari ini tiba-tiba menjadi hampa tanpa kamu.

Hampir petang. Dengan ragu aku mengemas barang-barangku untuk pergi dari tempat ini. Ragu, karena aku tidak benar-benar ingin meninggalkan tempat ini. "Tapi untuk apa disini kalo kamu tidak ada disini, Bulan."

Langit mulai berubah warna. Matahari hampir tenggelam. Tiba-tiba saja entah dari mana datangnya dia sudah ada dihadapanku sambil membawa sepotong ikan bakar yang entah darimana dia ambil.

"Kamu KEMANAAAAAA?????" tanyaku setengah berteriak dan hampir menangis.

"Kamu yang kemana??? aku menunggu sampai hampir pagi dan kamu malah tertidur pulas???" Jawabnya sedikit emosi.

"Maaf. Malam itu aku sangat ketakutan. Tempat ini gelap sekali dan aku memilih untuk memejamkan mataku agar rasa takut itu hilang. Rasanya lama sekali aku memejamkan mata sambil menunggu suaramu memanggil. Namun ternyata aku tertidur begitu pulas sampai tiba-tiba sudah pagi dan kamu hilang. Kamu kemanaaaa????"

"Ya aku pergi sendiri ke tempat yang lebih tinggi, mencari tempat yang tepat untuk melihat rasi bintang."

"Kenapa tidak ajak aku???"

"Kan kamu tidurrrrrrr!!!!" Jawabnya kesal.

"Dulu aku takut gelap, sekarang aku takut kehilangan kamu." kalimatku terbata-bata berusaha agar tidak terdengar olehnya.

"Apaaaa???? Hahahahahahahahaha..."

"Kenapa kamu ketawa?"

"Baguslah aku berhasil membuatmu takut kehilangan aku."

"Maksudnya?"

"Yaaaa, siapa sih yang bisa menolak aku???" sambil merapikan poni rambutnya dengan tangan kanannya lalu memandang sombong ke arahku.

"Hahahahahahaha.... Speechless. Aku ga bisa ngomong apa-apa lagi. Sumpah baru kali ini aku ketemu sama orang yang super kepedean. Hahahaha..."

Dan malam itupun berakhir dengan riuh tawa kami dan sepotong ikan bakar yang dia bawa tadi.

****

Jumat, 12 Agustus 2016

Fiction : "BULAN" Part 3

Baru kali ini setelah berbulan-bulan, aku terbangun saat matahari sudah bersinar dengan teriknya.
Fiuh, dimana si anak kecil itu? Ah sudahlah mungkin dia sudah pulang kerumah ibunya. Pasti kakeknya akan memarahinya karena tidak pulang seharian. Entah bagaimana cara dia pulang kerumah. Mungkin seperti ceritanya bersembunyi di toilet kereta sampai penagih karcis lewat memeriksa penumpang. Ah dasar anak kecil gila.

Belum juga sempat bangun dari tempat tidurku, dan belum juga selesai memikirkan anak itu, tiba-tiba muncul makhluk aneh itu tepat di depan wajahku.

"Ayo cepat. Aku sudah mengemas semuanya. Kamu hanya punya waktu lima menit sebelum kita pergi meninggalkan rumah ini."

"Apa?"

"Sudah jangan banyak mikir, sekarang cepat bersiap karena waktumu hanya tersisa empat menit lagi."

Entah apa yang aku lakukan dan pikirkan. Yang jelas dia tidak memberiku kesempatan untuk berpikir dan dalam hitungan empat menit kurang satu detik kami sudah berlari keluar rumah. Pergi menuju ke tempat tidak tahu kemana. Melawan arah angin, menuju ke Barat tapi bukan untuk mencari kita suci. :D

Entah kemana ini, sepanjang jalan yang kulihat hanyalah pohon, ranting, daun, jalan setapak, dan akhirnya kami sampai di padang rumput yang luas ini. Indah sekali tempat ini, di sebelah barat ada bukit dengan hamparan pohon pinus yang berbaris dengan rapi. Ahhhh... aku ingin disini selamanya. Hanya itu yang terbersit dalam benakku. Disini aku merasa tenang. Disini aku melupakan semua bayangan kelam yang bertahun-tahun menyelimutiku. Disini aku..... Tidak... aku pasti salah... aku tidak benar-benar ingin ada disini. Sebentar lagi matahari akan pergi meninggalkan kami dan gelap itu kembali datang. Tempat ini akan menjadi tempat yang suram bahkan mungkin lebih mengerikan dari gelap yang dulu pernah kurasakan. Tidak, aku tidak ingin disini.

"Ayo pulang" ajakku.

Anak itu tak bergeming hanya memandangku aneh.

"Aku mau pulang."

"Kamu mau pulang kemana?"

"Ke rumah itu."

"Rumah yang telah membuatmu bodoh dan menyiksamu selama ini?"

Dan sekarang aku yang tak bergeming memandang kosong ke bukit pinus dihadapanku.

"Kamu siapa?"

Lagi, dia memandangku aneh dengan pertanyaanku yang tampak konyol menurutnya.

"Iya, maksudku namamu siapa. Sejak awal kita bertemu kamu tidak pernah memberitahuku siapa namamu."

Sambil berdiri dia menyodorkan tangannya ke arahku. "Bulan."

"Kenapa namamu Bulan?" tanyaku aneh.

"Entahlah. Mungkin karena tidak tahu lagi mau memberiku nama apa. Yang pasti aku beruntung dia tidak memberi nama depan "Datang" sebelum nama belakang "Bulan" kalo tidak pasti aku akan menjadi bulan-bulanan semua orang."

"Hahahahahahaha......."

"Lalu kamu siapa?"

"Lana" jawabku sambil membalas jabatan tangannya.

"Hah, Celana???"

"LANA, L-A-N-A."

"Oooohhh Lana. Kalau di daerahku perempuan itu dipanggil "ceu" jadi kalo kamu datang ke desaku kamu akan dipanggil ceu Lana. Jadi kalau namaku jadi "Datang Bulan", tanpa kamu aku jadi : "Datang Bulan tanpa ceu Lana"

"Hahhhh????" Sahutku sambil memandangi anak aneh itu tertawa terpingkal-pingkal.

Dan seperti biasa gelak tawa kami kembali memecah keheningan.

Cerita tak pernah berakhir. Tentang sebagian masa yang hilang dari hidupku, tentang hidupnya yang aneh, tentang kencan pertamanya yang membuat dia hampir tidak makan selama dua minggu, tentang cinta yang bertepuk sebelah tangan, dan tentang kita, cerita yang baru saja di mulai.

Dia memang bulan, yang datang menerangi malamku yang gelap. Bulan sabit kecil yang menghapus air mataku pagi ini. Kecil memang,, tapi cahayanya mampu membuatku melihat ada harapan untuk hari esok. Malam tak lagi menakutkan. Cahayanya membuatku melihat kelap kelip bintang yang berhamburan dilangit cerah malam ini. Sedikitpun tidak ada rasa takut. Hanya saja masih ada terbersit rasa ngilu di ulu hati setiap kali tanpa sengaja mata menoleh ke arah hutan yang mengantarkan kami kesini.

Ah masa lalu. Aku harap engkau segera berlalu. Kumohon jangan ganggu aku lagi. Ijinkan aku bahagia disini, tanpa apa-apa, hanya ditemani sinar sang rembulan.

***
Bersambung







Kamis, 11 Agustus 2016

Fiction : "BULAN" Part 2

Senja hampir berlalu, gelap datang menyelimuti. Datang lagi rasa takut itu. Jendela, pintu, semua ku tutup rapat seolah tidak pernah terbuka. Hanya saja aku tidak bisa mengunci pintunya, karena aku memang tidak memiliki kuncinya. Kembali dalam sunyi, duduk merenung menunggu pagi.

"BRAKK"
Suara pintu yang terbuka itu mengagetkanku. Hanya sedikit cahaya yang membantuku untuk mengenali bayangan itu. Tidak, cahaya tidak membantuku, karena aku bahkan tidak berani untuk membuka mata.

"Hey, lihat ini aku bawakan onde untuk menemani cerita kita malam ini"

"Apaaaa???? gila!!! apa yang kamu lakukan disini???? Pergi!!! orangtuamu akan mencarimu dan aku takut akan ada orang yang melihat kita disini...."

Dengan sibuk dan panik aku menyuruh anak itu pergi. Tidak terbayang apa jadinya aku bila dia menemukan kami disini. Aku tidak mau terjadi sesuatu pada diriku juga pada anak ini. 

"Kumohon, pergi sekarang juga, tutup pintu dengan rapat dan jangan pernah kembali ke sini!!!"

"Kenapa, disini tidak ada siapa-siapa, aku hanya seorang anak remaja yang menemani seorang wanita dewasa yang senang mendengarkan ceritaku dan terbahak-bahak pada leluconku, apa yang salah?"

"Aku menggunakan uang keretaku untuk membeli onde ini. Onde ini enak. Aku membelinya dari ibu tua di desa. Asal kamu tahu, butuh berjalan setengah jam hanya untuk membeli onde ini dan aku harus berlari super cepat agar kamu bisa menikmatinya selagi hangat, dan sekarang kamu suruh aku pergi???"

Sambil malu aku ambil sebuah kue onde dari tangannya. Masih hangat. Enak.
Sayup dibawah sinar bulan aku lihat wajahnya yang masih merah kelelahan dengan keringat bercucuran  dan detak jantung yang tidak beraturan.

"Terima kasih."  dan hanya itu kata yang terucap sampai akhirnya dia memecah keheningan dengan nyanyian tanpa nadanya yang membuat kami tertawa terbahak-bahak.

----

Entah jam berapa ini, yang jelas aku lupa bahwa saat ini aku sedang ketakutan. Rumah yang suram ini tiba-tiba berubah menjadi ceria dan penuh gelak tawa. Sambil menikmati bulan dan bintang, saat semua orang sibuk dengan mimpinya masing-masing, kami sibuk mentertawakan mimpi mereka. 

"Kenapa kamu kesini?" tanyaku.
"Kenapa kamu disini?" tanyanya.

"Seseorang yang katanya mencintaiku seperti laut mencintai pantai, membawaku kesini dan meninggalkanku tanpa alasan. Katanya dia akan kembali membawaku pada kebahagiaan. Sayangnya aku terlalu bodoh dan percaya. Padahal dia tidak akan pernah kembali kesini. Beberapa kali dia datang, ya sesekali, sekilas saja dia menanyakan keadaanku. Sekejap sambil menyembunyikan suara tawa dibelakangnya yang menariknya untuk segera pergi meninggalkanku. Katanya aku harus menunggu, entah sampai kapan. Yang pasti ini adalah tempat yang teraman dia menjagaku disini disaat dia pergi bersama orang lain."

"Kamu bodoh."

"Mungkin"

"Sampai kapan kamu mau bodoh?"

"Entahlah."

"Ini adalah tempat paling menyedihkan yang aku tahu."

"Kenapa kamu kesini kalo menurutmu ini tempat yang paling menyedihkan?"

"Suatu hari angin bertiup membangunkanku yang sedang tidur dibawah pohon. Angin membawa suara tangisan yang sangat menyedihkan. Aku coba menelusuri darimana angin itu datang dan sepertinya dia datang tepat dari depan rumah ini. Tidak terdengar suara apa-apa, tapi aku bisa merasakan kesedihan yang mendalam dari rumah ini. Ternyata kamu. Ya sudahlah lebih baik kita lupakan semua kesedihanmu dan besok kita pergi melihat dunia yang lebih indah."

"Ah gila, sedikitpun aku tidak akan pergi meninggalkan rumah ini. Bagaimana kalau dia datang dan mencariku sedang tidak ada disini?"

"Kamu berharap dia datang? Kamu mau dia datang dan menyiksamu dan mengurungmu lagi di tempat yang lebih jauh dan sepi?"

"Tidak"

Tanpa sadar aku meneteskan air mata, entah apa arti tangisan ini. Antara lega dan gundah. Mengapa aku menceritakan sesuatu yang seharusnya tidak boleh aku ceritakan kepada siapapun. Bagaimana kalau dia tahu aku menceritakan semuanya kepada anak ini? Bagaimana kalau anak ini menceritakan kepada orang lain? Bagaimana kalau.......

Ah... anak kecil aneh ini sudah tertidur. Mungkin ceritaku seperti dongeng pengantar tidur dari ibunya. Matahari hampir terbit. Ya sudah, biar saja dia tidur. Semoga dia lupa akan cerita tentang mimpi buruk yang aku ceritakan malam ini.

Selamat tidur anak kecil.  

***
Bersambung

Selasa, 09 Agustus 2016

Fiction : "BULAN" Part 1

Akhirnya aku bisa melihat matahari pagi yang sudah lama tidak terbit di bumi hidupku

Akhirnya aku bisa membuka jendela dan membiarkan angin sepoi-sepoi menyeruak masuk menyegarkan seluruh pelosok rumah ini.

Perlahan, akhirnya aku berani membuka pintu rumah dan melangkah keluar.

Sudah terlalu lama aku terkurung disini. Seseorang yang dengan mengatas namakan cinta mengurungku ditempat gelap ini kemudian pergi meninggalkanku begitu saja. Entah dia lupa, entah dia sengaja, entah dia kemana. Yang aku tahu cahaya dari sela-sela pintu sudah ratusan kali berubah menjadi hitam.

Untung saja hidup masih mengijinkanku bernafas.

Katanya ini tempat paling aman untukku, diluar sana terlalu berbahaya. Dia tidak ingin kehilangan aku.

Takut.

Hanya itu yang bisa aku ingat saat pertama kali menjejakkan langkah di depan pintu ini. Bagaimana kalau dia tiba-tiba datang dan melihatku begini, melihat jendela terbuka, melihat pintu terbuka, dan melihatku tidak didalam rumah. Sudah terbayang bagaimana dia akan menarikku kedalam, menghempaskanku ke lantai dan mengurungku diruangan paling dalam di rumah kosong ini.

Dia menjagaku tanpa peduli rasa sakitku.
Dia menjagaku tanpa peduli rasa sepiku.

Aku tidak boleh merasa sepi, karena katanya ada dia yang selalu menemaniku.
Menemani dengan gema cacian dan teriakan yang tersimpan di balik tembok.
Sementara dia tertawa bersama manusia-manusia yang hanya kukenal dari gambar, dia lupa telah mengurungku ditempat sunyi ini.

Entah siapa yang membukakan kunci rumah ini.
Hampir tengah malam, ada bunyi "klik" dari pintu. Aku pikir dia datang. Ternyata bukan. Sampai pagi datang pintu tak kunjung terbuka. Tapi aku yakin ada yang membuka kuncinya atau mungkin sedang berusaha membuka kuncinya. Yang pasti aku tidak berani bergeming sampai pintu benar-benar terbuka.

Entah berapa malam yang telah berlalu, akhirnya pintu terbuka. Hanya dibuka sebentar lalu ditutup lagi. Entah siapa orang itu, gelapnya malam membuatku sulit untuk mengenalinya. Aku berharap bukan dia. Karena aku takut dia akan menyiksaku dan menahanku lebih lama ditempat ini.

Seorang anak remaja menghampiriku, sambil terkejut dia menyebut namaku dan seolah dia mengenaliku dengan baik. Entah untuk apa dia berusaha membuka pintu ini dan tanpa sengaja menemukanku disini. Sepertinya memang dia mengenalku dengan baik. Dia bercerita tentang aku dan masa laluku. Dia bercerita bahwa aku pernah hidup, aku suka tertawa, aku pernah bahagia. Cerita yang panjang dan aneh dan sangat sulit untuk aku percaya. Sebagian memori memang hilang dari ingatanku. Entah terbentur apa, yang pasti cerita anak ini seperti dongeng pengantar tidur setiap malam.

Anak ini datang dari jauh, perjalanannya kesini harus menggunakan kereta. Entah apa yang dia inginkan, dengan semangat dia bercerita tentang tahun-tahun yang lalu. Kadang bingung dengan ceritanya, tapi mendengarkan dia bercerita saja sudah cukup membuatku tertawa terbahak-bahak dan melupakan gelap yang bertahun-tahun menyelimutiku.

Setiap pagi dia mengetuk rumah kakeknya untuk meminta uang agar bisa naik kereta ke tempat ini. Menemaniku duduk dirumput sambil menikmati terik matahari membakar kulit, mendengarkan cerita anak kecil aneh ini, mengamati perilakunya, cerita cinta anak remaja, menangis karena tertawa sampai fajar tenggelam dan dia kembali dengan keretanya.

****
Bersambung

Selasa, 28 Juni 2016

Sing Kenken

Kalo browsing google ngetik "sing ken ken" yang keluar malah nama salah satu hotel bagus di Bali.

Yang saya maksud disini bukan Sing kenken itu. Sing kenken itu memang bahasa bali, artinya kurang lebih I'm okay alias Fine alias baik-baik saja alias aku rapopo.

Kenapa tiba-tiba pengen nulis Sing kenken, karena saya emang baik-baik aja. Sekalipun ada aja orang yang jahat dan nyebelin tapi untungnya sampai detik ini saya baik-baik aja.

Masa-masa nangis-nangisan tengah malem, masa-masa jerit-jerit sendirian di mobil, masa-masa sesenggukan sampe sesek nafas, semuanya pernah saya lewatin dan sampe sekarang toh saya masih baik-baik aja kan.

Setiap orang dapat memilih untuk mengumbar masalahnya atau menyembunyikannya, ga ada yang salah dan ga ada yang lebih baik, keduanya adalah pilihan.

Saya sendiri cenderung lebih suka menutup rapat masalah saya dan jungkir balik sendiri berusaha menyelesaikannya. Hasilnya : gagal, gagal, dan gagal. Tapi mengutip kata-katanya Einstein bahwa kegagalan itu sepatutnya tidak saya lihat sebagai suatu kegagalan, melainkan suatu keberhasilan menemukan suatu cara yang salah untuk memecahkan suatu masalah. (hehehe... rumit ya bahasanya...).

Masalah yang dateng makin hari bukannya makin dikit melainkan makin banyak dan berat dan berat dan berat, sampe saya sendiri udah pasrah karena ga bisa lagi nanggungnya.

Mungkin harus dititik ini saya dipaksa untuk berhenti ngandelin pikiran saya sendiri dan nyerah. Semua beban-beban yang ngga sanggup lagi saya pikul harus saya letakkan satu per satu. Ga ada satupun orang lain yang bisa memikul beban kita, seberapapun orang tersebut mengasihi kita, jadi jangan pernah berharap sama manusia. Cuma Tuhan yang maha besar yang sanggup menolong kita.

Yang namanya manusia, saya lebih suka ngikutin pikiran dan perasaan saya sendiri. Dijahatin orang pengennya balas, dikhianatin pengennya dendam, dibohongin pengennya marah. Tapi itu salah dan tidak ada sedikitpun kebaikan didalamnya.

Trus harus gimana?

Jawabannya hanya : mengasihi, mengasihi, mengasihi....

Ga heran ini dijadikan hukum yang terutama.

Dijahatin tetap mengasihi,
Dikhianatin tetap mengasihi,
Dibohongin tetap mengasihi,

Sinting sih kalo dipikir-pikir, tapi hanya dengan cara itu kita bisa menang, dan jujurnya saya ngga sanggup. Jangankan ngelakuinnya, baru ngebayanginnya aja udah cukup bikin sesek. Tapi hanya didalam kasih-lah ada segala kebaikan.

Memaafkan tanpa syarat, membiarkan yang lalu berlalu dan melihat janji yang ada di depan.
Janji siapa? yang pasti janji Tuhan, karena yang namanya janji manusia sekalipun mengatas namakan Tuhan, tetap saja mudah untuk diingkari. Itulah manusia, hari ini dia bisa mencintai, besok dia bisa saja membenci. Antara hati, pikiran dan tindakannya seringkali ngga sinkron. Yah begitulah manusia. Maha baik Tuhan yang masih bisa bersabar terhadap manusia.

Beneran loh kalo dipikir-pikir, Tuhan kok sabar banget sama manusia? Udah sebegitu bejat dan jahatnya semua perilaku manusia di dunia ini. Bukannya semakin baik malah semakin mengerikan, dan Tuhan masih juga sabar? Oh God....

Terlalu banyak manusia aneh yang dalam ibadahya nangis-nangis, menyesali dosa dan seolah benar-benar butuh Tuhan, tapi dalam sekejap saja lupa dengan air matanya lalu kembali menikmati dosa. Tuhan bukan lagi yang terpenting dalam kehidupan manusia. Dirinya sendirilah yang lebih penting. Emosinya, hasratnya, perasaannya lah yang terpenting. dan Tuhan ngga buta, Dia melihat ini semua dan tetap sabar??? YOU are out of my mind!

Ya memang pikiran Tuhan ga bisa diselami oleh otak manusia yang kecil ini. Entahlah, mungkin karena Allah begitu mengasihi kita sang pendosa ini. KasihNya sempurna sehingga kesabaranNya pun sempurna. Walaupun kalo saya jadi Tuhan saya akan memilih untuk menghancurkan semuanya dan membuat langit dan bumi yang baru. Ups... Saya jadi kepikiran sesuatu tentang ini. Yang jelas untung saya bukan dan berarti saya masih jauh untuk menjadi serupa dan segambar dengan DIA.

Tapi jangan salah, ada konsekuensi dari apa yang kita lakukan. Tergantung dari dosa apa yang kita lakukan. Saat seorang anak melakukan kejahatan, dia tetap anak dari orang tuanya, berapapun usianya, dan orangtua nya pasti akan tetap mengasihinya, sebesar apapun kejahatan yang dilakukan anaknya. Tapi..... saat anaknya dituntut oleh hukum dan dipenjarakan, orangtua tidak dapat berbuat apa-apa selain bersedih meratapi hukuman yang harus ditanggung anaknya. Tidak ada korelasi antara Kasih Allah dengan hukuman yang harus ditanggung sebagai konsekuensi atas dosa.

Sebenarnya Tuhan sudah menanggung semua dosa kita supaya kita tidak dihukum, supaya kita hidup dalam kemenangan dan kelimpahan. Kalau pada akhirnya kita harus dihukum sebagai konsekuensi atas dosa dan pelanggaran yang kita lakukan, betapa sia-sianya pengorbanan maha dasyat yang Tuhan lakukan untuk kita. Kalo mikir ini, suka malu udah bikin dosa, tapi... ah dasar manusia... Nikmati aja rasa sakitnya setiap hari sebagai konsekuensi dari apa yang kamu lakukan, dan jangan bilang Tuhan kenapa hidupku begini, ya ini kan salahmu sendiri. 

Bersabar hari ini, ngga bisa kita petik hasilnya hari ini. Karena sabar bukan toge, yang gampang di tanam, gampang bertubuh dan pada akhirnya gampang mati. Sabar itu adalah bagian dari kasih. Sulit menanamnya, sulit melakukannya tapi buahnya bukan sesuatu yang semu dan gampang mati.

Ga gampang bersabar itu. Rasanya ada yang bergejolak dihati, kaya mau meledak. Dengan kekuatan sendiri pasti ga akan bisa, pasti gagal dan itu akan membuat diri kita semakin depresi.

Tapi sabar itu perintah sama seperti mengasihi juga adalah keharusan. Keharusan kalo tidak dilakukan adalah kesalahan. Tapi saya tidak sanggup melakukan. Jadi gimana? Pada akhirnya saya hanya bisa minta Tuhan tolong saya, berikan saya kekuatan untuk bisa bersabar dan terus berjalan didalam kehendak-Nya.

Sakit memang tapi pasti Sing kenken.

:)











Senin, 27 Juni 2016

Semua gara-gara hormon!




Pernah jatuh cinta?

Kata orang jatuh cinta itu sejuta rasanya.
Apa sih yang membuatnya menjadi sejuta rasa?

Yup, hormon!
Hormon memang memiliki peranan yang sangat penting dalam tubuh, segala sesuatu yang kita rasakan sangat tergantung pada aliran hormon dalam tubuh dan si Hormon adalah lakon yang punya andil sangat besar dalam urusan cinta.

Ngga jelas apa yang mempengaruhi apa, entah jatuh cinta membuat hormon tertentu meningkat, entah peningkatan hormon tertentu membuat orang jadi jatuh cinta, hahaha... Yang jelas ada peningkatan hormon tertentu pada insan yang sedang jatuh cinta.

Lucunya istilah "masakan keasinan karena yang masak lagi pengen kawin alias jatuh cinta" itu ternyata ilmiah. Konon katanya kenaikan jumlah hormon pada seseorang yang sedang jatuh cinta dapat mempengaruhi persepsi orang tersebut mengenai rasa. Berdasarkan penelitian, orang yang sedang jatuh cinta memerlukan lebih banyak garam, gula maupun asam dalam suatu makanan untuk lebih mudah dikenali rasanya. Hormon oksitosin-lah yang bertanggungjawab mempengaruhi fungsi indra perasa mereka yang sedang jatuh cinta.

Oksitosin kadang dikenal juga sebagai "hormon bermanja" hmmm... apa hubungannya sama syahrini ya yang segala sesuatunya dipakein embel-embel "manja" Hahaha... Pria dan wanita yang berada dalam kondisi jatuh cinta dan mencintai memiliki jumlah oksitosin yang lebih tinggi. 

Memang, perubahan hormon tidak hanya terjadi pada saat orang jatuh cinta saja. Pada saat keadaan tegang, stress, dan sebagainya juga akan memicu perubahan aliran hormon dalam tubuh. Dan hormon pun bukan hanya oksitosin saja, masih banyak hormon-hormon lain yang bekerja dalam tubuh manusia, dan ternyata tubuh manusia (dan hampir semua makhluk hidup di dunia) di jajah oleh zat bernama hormon.

So....... "Ketika kita jatuh cinta, apa yang terjadi pada tubuh kita?"


Otak mengirimkan sinyal ke kelenjar adrenal, yang mengeluarkan hormon seperti adrenalin, epinefrin dan norepinefrin. Hormon-hormon itu mengalir melalui darah dan menyebabkan jantung untuk berdetak lebih cepat dan lebih kuat. Selain itu, hormon seperti phenylethylamine atau PEA, norepinefrin, dopamin, oksitosin, hormon testosteron dan endorfin juga mempengaruhi apa yang dirasakan oleh seseorang 

Peristiwa jatuh cinta-nya manusia, ternyata bukan semata-mata 'anugerah ilahi' Melainkan pengaruh dari kerja Hormon DOPAMINE, sehingga orang lantas menjadi infatuation/ tergila-gila bahkan bisa sampai merasa 'lebih baik mati, daripada nggak bisa hidup bersama dia' ah hormon kamu memang gila.... (bukan cinta yang gila...) kegila-gilaan ini juga semakin menggila dengan pengaruh Endorphine, yang membuat mereka hanya bisa tenang dan bahagia saat bersama.

Setelah proses waktu dua insan menjadi sepasang kekasih lalu kemudian menikah, ajaibnya setelah proses 'pembuahan' sim salabim dari dua orang ini keluar Hormon SERETONIN : Hormon Cinta yang STABIL.



Hormon Seretonin ini diperlukan untuk 'raising the kids' alias membesarkan anak-anak.

Dopamin dan endorphine itu umurnya ga lama, tergila-gila itu juga biasanya ga lama. paling lama tiga tahun, udah bagus. Selebihnya komitmen dan rasa cinta itu akan tetap kuat dengan pengaruh hormon oksitosin, yang dibangun melalui komunikasi, pelukan, ciuman, perhatian, tatapan mata, ya seperti nick name nya tadi itu si hormon manja. Walau sudah tidak tergila-gila tapi tetap memanjakan pasangannya, dijamin hubungan akan selalu special se-special martabak san fransisko, Hehehe...



Dan jangan lupa, ilmu pengetahuan sudah bisa meramalkan loh kapan si bapak alias pejantan akan diserbu hormon dophamin lagi (beger lagi kata orang mah) berdasarkan penelitian, pada pria siklusnya tiap 7 tahun sekali dan mulai mencari betina lain untuk beranak pinak atau sekedar melakukan "pembuahan" hahaha... Sementara perempuan cenderung masih bertahan dengan hormon seretonin-nya.


Emang secara ilmiah kaya gitu, tapi kaya yang tadi saya bilang diawal, masih ga jelas kan antara apa mempengaruhi apa. Daripada kita yang dipengaruhi hormon, mendingan kita yang ber-otak (walaupaun kecil, karena yang besar itu otak sapi, apa sih ga penting...) yang mengatur hormon-hormon yang bekerja dalam tubuh kita. Kita yang jadi bos-nya.

Hubungan yang baik juga bukanlah hubungan yang dipengaruhi hormon. Sekarang jatuh cinta dan besok semakin berkurang. Kita yang menentukan untuk membuat hubungan tersebut tetap indah dan stabil. Jangan mengandalkan dopamin dan endorphine yang sifatnya nge-bom, memacu adrenalin, butterfly in stomach, ser-ser an or apapun itu you name it, karena itu ga akan pernah bertahan lama. 

Keep in love dengan oksitosin, bangun komunikasi yang baik, berbicara dengan lembut, pelukan hangat sebelum berpisah, ciuman mesra dikening sebelum tidur, genggaman tangan, pujian, nonton tv sambil membelai rambut, and ALL IS FREE, gratissss!!!

Membangun hubungan yang manis itu ternyata ga sesulit dan semahal cintanya Glenn Alinskie (nulisnya bener ga sih males googling) dan Chelsea Olivia. Yang penting mah ada niat pasti ada jalan.

And I'm thank God for you as my Oksitosin....

I love you to the moon and back 'Leufde'

Senin, 20 Juni 2016

Untung ada kamu!

"Life is like a cup of coffee. No matter how bitter it may be, it is always enjoyable."


Image result for coffee cup

Untung ada kamu.

Setidaknya saya masih punya teman untuk bercerita. Iya, setidaknya saya masih punya teman untuk tertawa dan ngobrol ga penting. Walaupun hobby kamu itu ngehina jerawat dan perut buncit saya, tapi setidaknya kamu mengakui juga kan kalo saya itu cantik kalo mukanya diedit pake Camera 360. :)

Hubungan tanpa hubungan, hubungan tanpa paksaan, hubungan tanpa menuntut, dan yang pasti tanpa kebohongan.

Kamu tau saya lemah dan saya tidak perlu berpura-pura kuat.
Kamu tau saya susah dan saya tidak perlu berpura-pura bahagia.
Kamu tau saya dan saya tidak perlu menjelaskan siapa saya.

Saat saya cuek, kamu ga bilang saya ga peduli.
Saat saya hilang, kamu berusaha mencari tanpa menghakimi.

Kamu memberi tanpa saya meminta.
Terlalu banyak, bahkan untuk sesuatu yang saya pikir tidak saya butuhkan, tapi kamu selalu lebih tau apa yang terbaik untuk saya.

Kamu mengingat saya bahkan disaat kamu jauh.
Kamu menemui saya bahkan disaat saya pikir itu ngga mungkin.
Kamu membuat saya merasa berharga, disaat saya sedang terbuang.

Bahkan waktu saya bilang saya jelek dan kamu mengiyakan, bahkan menegaskan itu udah dari dulu, itu ga membuat saya merasa hina, justru saya malah seneng. Berarti kamu liat hal lain bukan cuma sekedar apa yang dilihat sama mata.

Jujur deh saya ga ngerti apa yang ada dipikiran kamu tentang semua ini. Saya hanya melihat kamu sebagai sosok yang baik dan ga munafik. Itu yang bikin saya salut banget sama kamu, kamu apa adanya banget, seada-adanya, se-bagus-bagusnya dan sejelek-jeleknya kamu itu ya kamu. Tanpa dibuat-buat ato pake pemanis buatan. :)

Kamu cerita tentang banyak hal dan saya suka denger cerita kamu. Saya bahkan suka denger kamu lagi kesel, marah-marah trus berakhir dengan ketawa-ketawa bareng. Yang pasti kamu ga pernah marah sama saya, ato saya yang ga peka dan ga sadar kalo kamu lagi marah? Hahaha....

Mungkin kita udah terlalu sibuk sama urusan hidup, sampe ga ada waktu lagi untuk saling marah-marah.
Mungkin juga kita udah malu sama umur kalo sikapnya masih kaya abege alay yang wa nya telat di bales trus marah-marah.

Walaupun debu jalanan waktu itu bikin muka saya mehong-mehong, setidaknya sampai saat ini kamu masih ada.

Walaupun susah banget ketemu, liat gambar di profile kamu aja udah bikin tenang. Setidaknya sepait-paitnya hidup, untung masih ada kamu.

Makasih ya .... :)